Tuesday, September 02, 2008

Azab Bahasa Indonesia

Lama nggak nulis dan tau-taunya sekarang udah bulan puasa. Dan yang paling menakjubkan: LIBUR..!
Okeh, mungkin memang cuma tiga hari bodoh yang aku isi dengan santai sampe mual. Udah nyoba minjem novel di Anime (dan bodohnya lagi, aku nitipin SIM, bukannya Kartu Pelajar laknat yang ketinggalan di suatu tempat di kamar, sebagai jaminan), tapi nggak nyampe sepuluh jam sejak dua novel metropop yang gendut-gendut itu aku bawa pulang, aku sudah menyelesaikan membaca.
And here I go again... kembali garing.

Sebenarnya sih bukannya nggak ada kerjaan buat dilakukan. Buanyak banget malahan kalo mau dipikir-pikir. Tugas powerpoint TIK, baca Biologi, pinjem catatan Matematika sama Kimia orang buat disalin di bukuku sendiri, dan masih banyak lagi tugas-tugas yang kalau mau disebutkan bakal habis pas beduk maghrib. Tapi, ya ampun, kalo memang dari dulu sifat aku mau ngerjain semua hal—minimal yang sudah kusebut tadi—itu, aku berani taruhan sekarang aku ada di Jepang, hanami (well, entah Jepang sedang musim apa sekarang) atau duduk di kelas Sejarah Jepang atau apa, menikmati masa mudaku di SMA Jepang yang seragamnya lucu abis; dapat beasiswa.
Sayangnya tidak.

Kesimpulannya, satu-satunya solusi masalah kegaringan ini adalah duduk di depan komputer, dan mulai menulis untuk blog yang sudah cukup lama aku abaikan ini.


Sesuai judulnya yang garing abis, posting ini aku manfaatkan untuk berbagi pengalaman soal aku dan Bahasa Indonesia. Okeh, aku tau kalimat barusan nggak membantu, tapi yah, baiklah, aku akan mulai bercerita.

Aku pernah cerita soal guru bahasa indonesia kelas XI ku yang namanya Bu Nunung, kan? (nggak berharap ada yang inget, tentu saja. Tapi kalau ada yang mau mengingatkan diri atau tertarik membaca, silakan klik disindang.)
Kami pikir (yeah, aku udah bilang kalo kelas XII ini anak-anaknya sama dengan kelas XI tahun lalu) udah terbebas dari kekangan guru bahasa indonesia yang model begitu, tapi ternyata kelas XII ini, gurunya setali tiga uang dengan Bu Nunung.

Namanya Bu Wisnu. Tinggi, langsing (kata sopan untuk ‘kurus’) dan bersuara berat nan menggema.

Langsung buat daftar yah.

1. Di setiap pelajarannya, entah nulis di papan tulis, ngerjain tugas apalagi ulangan, musti pake huruf rangkai alias tegak bersambung. Ha.
Maksudku, halloo, kita ini kelas tiga es-e-ma, bukan tiga es-de yang belajar nulis indah!
Dan jangan harap huruf rangkai yang dipake model biasa. ‘S’-nya kurus banget dan ‘M’-nya pake ungkel-ungkel. Nggak usah dibayangin, nggak bakal ngerti. Aku juga enggak.

2. Dilarang coret, tip-ex, hapus, tambal pake kertas, atau pake pensil.
Dikiranya kita dewa, nggak bisa bikin salah? Bahkan waktu disuruh nulis surat lamaran pekerjaan waktu itu (oh, yeah, pake tangan!) tak terhitung banyaknya kita-kita pada ganti kertas.
Tak heran bumi makin panas dan kutub mulai mencair.

3.Soal ulangannya di ambil dari buku. Dari buku, buku cetak yang mesti kita beli dan jadikan alas kepala saat tidur.
Sumpah, nggak kreatif banget.
Dan inilah, ulangan inilah, yang sekiranya bakal menjadi topik utama kali ini.

Waktu ulangan itu dibagikan, aku nggak sebel dapet nilai 70. Mending malahan, karena kupikir bakalan dapet empat puluh lima. Toh yang lain juga banyak yang lebih jelek (nggak masuk konteks menghina ya).
Setelah hepi-hepi bentar karena merasa nggak perlu ikutan remidi, tiba-tiba duniaku langsung roboh. Bukan, bukan karena bangunan sekolah udah jelek, tapi karena aku dengar dari I’a kalau KKM-nya tujuh puluh dua. Dan nilaiku tujuh puluh.
Oh, tidak.

Segera aku nyari-nyari kesalahan pemeriksaan di kertas ulanganku, kali aja nilaiku tiba-tiba naik dan nggak perlu ikut remidi laknat itu.

Usaha pertama.

Aku mencocokkan jawaban dengan ulangan Doska yang dapet sembilan puluh entah berapa dan aku menemukan kejanggalan di soal essay nomor dua.
Aku jawab lima, tapi cuma dikasih nilai tiga dan doska yang jawab empat dapet nilai empat setengah.
Akhirnya Amalia yang baik hati setuju mau nemenin aku buat memprotes jawaban ke Bu Wisnu.
Guru itu melihat jawabanku sekilas, dan menjawab dingin, “Coba kamu lihat jawaban di buku, sama tidak dengan yang kamu jawab?”
Aku diam. Alamat nasib buruk, nih.
“Sudah lihat? Ibu memberi nilai segitu karena sudah mempertimbangkannya, jadi...”
Bla-bla-bla.
Usaha satu gagal. Aku melangkah gontai kembali ke bangku.

Usaha kedua.

“Dapet berapa, Des?” tanya Arlia.
Aku menjawab kesal, bercerita kalo tinggal dikit lagi aku bakalan tuntas dan bisa jalan-jalan ke Dufan (boong banget).
Arlia melihat kertas ulanganku, dan menemukan kejanggalan.
“Ni, poin yang ini,” Arlia menunjuk jawabanku nomor satu essay, “kan betul. Protes sama ibu, deh.”
Hohoho, satu gerbang lagi terbuka. Dengan ditemenin Arlia, aku menuju meja guru dengan semangat.
“Bu, yang ini... bla-bla-bla...”
Ibu itu melihat jawabanku.
“Iya, poin yang ini betul,” beliau memberi centang, “tapi yang ini harusnya salah, yang ini dan yang ini juga.”
Arlia menahan tawa.
“Mm, jadi, Bu? Nilai saya...?”
“Kan sudah Saya bilang, Saya sudah mempertimbangkan semua hal sebelum memberi nilai, jadi...”
Arlia tertawa ngakak di sebelahku. Aku nemplok di whiteboard yang licin.

Usaha ketiga.

Arlia masih tertawa, tapi aku berusaha.
“Plis Bu... tolong deh... tinggal dikit lagi, dikiiit laghii, saya nggak musti ikut remidial nih, aduh Bu...”
“Tidak bisa begitu, nanti teman yang lain bisa iri.”
Aku melangkah gontai kembali ke bangku, cemberut gila.


“Jadi? Remidi nggak, Chi?” tanya Echa, melihat kertas ulanganku yang bonyok-bonyok.
“Remidi.”
Echa lalu mengeluarkan tawa binalnya yang biasa, menepuk-nepuk lenganku. “Sama-sama dong kite, yee...”
“Kapan remidinya?” tanyaku malas.
“Katanya sih, besok.”
“Aku nggak akan belajar buat remidi besok, denger ya Cha, nggak akan!! Kesal bener deh gua sama tuh ibu, sumpah mampus. Aku nggak akan belajar! Nggak akan! Nggak uakaaaa...n....!”
“Ntar kau remidi lagi, loh..”
“Peduli sampah! Sekali kesal yah kesal!!”
Bel pulang berbunyi.
Aku pulang dengan hati panas.


Aku dengan mobek-ku tercinta dan Febi dengan Vario-nya, berjalan beriringan menuju rumah. Ngobrol dengan motor sejajar, nggak peduli di klakson sama mobil-mobil di belakang yang nggak sabaran.
Tapi karena Febi bawa motor pelan banget, dan mobil-mobil makin banyak ajah di belakang, aku melaju ke depan, meninggalkan Febi di belakang.
Untungnya, tidak terlalu jauh.

Sampai U-turn di depan Mujahidin, mobek tiba-tiba berhenti. Aku mulai panik. Kustarter berkali-kali, nggak mau nyala. Akhirnya aku menyadari sebuah kenyataan yang mengejutkan: bensinku habis.
Aku panik gila.

Aku menoleh ke belakang, dan untungnya Febi sudah berada tepat di belakangku.
“Feb, gimana nih? Nggak mo idup mesinnyah?”
Febi ikutan panik. “Starter, cepatlah! Pake kaki kek, apa kek!”
“Nggak, bukan itu masalahnya! Bensinnya abis!”
Akhirnya Febi mendahuluiku memutar, dan menepi.
Aku menyeret mobek dengan susah payah, banyak kendaraan lain di belakangku, menanti memutar.
Setelah diteriaki sopir truk entah apa (ada dua truk di samping dan belakangku saat itu, kalau mau tahu), akhirnya aku berhasil memutar dengan susah payah. Tapi masalah lain datang. Gimana caranya menepi??
Bisa abis gua kalo ndorong motor menyebrangi jalan A. Yani yang lebar dan lagi ramai banget ini. Bisa mati di klakson, atau kalau mau yang lebih tragis, rata dilindas truk yang suka nggak sabaran.

Tapi akhirnya pertolongan Allah datang.
Bukan, bukan cowok ganteng berkacamata yang tiba-tiba datang dan bantu dorong si mobek ke tepi, tapi si mobek bisa hidup setelah kustarter beberapa kali. Akhirnya, meski dengan ndut-ndutan, si mobek dan aku nyampe di tepi dengan selamat.

Febi menghampiri. “Di situ ada kios bensin, tuh!” dan gadis itu melaju meninggalkanku sendirian, lima puluh meter di belakangnya, menggerutu sambil mendorong mobek dengan susah payah.
Ini motor berat banget, mungkin kebanyakan dosa gara-gara sering nggak sengaja aku pake buat nyerempet atau minimal hampir nabrak orang.

Febi memanggil abang kiosnya dan akhirnya abang itulah yang menyeret mobek ke kios bensin itu. Aku berlari menghampiri Febi.
“Mati, malu banget, Feb...! Untung ada kau, kalo enggak, tak bisa bayangin lah...”
“Kau, sih! Udah tau bensin nggak ada, masih berani di bawa jalan!! Tapi aku sih nggak heran!”
Aku nyengir malu. Puas-puas ketawa, nggak sadar kalau kita make baju khas biru kesayanganku dan ketahuan anak smansa.
Akhirnya mobek di kasih minum. Satu liter aja, nggak usah banyak.
Nggak ada duit, alasanku. Padahal pas bayar pake duit lima puluh ribu.

Setelah selesai tetek bengek pembayaran dan mobek akhirnya bisa jalan lagi, Febi menghampiriku.
“Des, kau mo tahu satu hal, nggak?”
“Apa?” tanyaku bingung. Jangan-jangan abang tadi ngasih kembalian kurang, atau jualan bensin oplosan.
“Abang tadi... bau.”


Sebenarnya kalau dipikir-pikir nggak ada korelasi yang benar-benar nyata antara sebel sama guru dengan kehabisan bensin di jalan.
Aku sebel sama guru, ya itu durhaka.
Aku kehabisan bensin, ya itu ceroboh.
Tapi kalau membuat dua hal kelihatan saling berhubungan, kelihatannya lebih keren, kan?

Oh, ya, kalau mau dihubung-hubungkan, aku dapat peran jadi harimau di drama nanti. Bukannya jadi harimau buruk sih, cuma ya... harimau gitu loh.
Nggak ngomong, cuma gerak-gerak sok garang dan mengaum.
Yah, kayaknya peranku di drama dari dulu benar-benar suits me banget.
Dulu hantu, ya, hantu, dan jangan berharap ada yang bilang peran itu nggak cocok sama aku.
Sekarang harimau, dan temen-temen sekelompokku, terutama I’a, bilang peran itu cocok banget sama aku.
Kapan aku dapat peran jadi Horikita Maki??

Sunday, August 03, 2008

Dua Cewek

Bukan aku dan pacar Toma (kalau ada), bukan pula Kartini dan Megawati Soekarnoputri (nggak nyambung).
Dua cewek yang kumaksud adalah dua teman sekelasku yang dengan semena-mena ku umbar aibnya untuk ditulis di sini.

Pertama tentang Echa, my deskmate. Omong-omong, nama lengkapnya sama sekali—SAMA SEKALI—nggak ada sangkut pautnya dengan kata ‘echa’. Nama aslinya Orida Siahaan. Nah. Mau mikir sampai botak pun aku yakin nggak bakalan nemu tuh unsur ‘echa’.
Orangnya baik, ketawanya binal dan doyan ngutang jajan snek-snek. Orangya cukup sabar yah, mengingat dia duduk sama aku yang matanya buta jauh dan bersedia jadi ‘mata’ kalo nyatat pelajaran eksak.
Satu yang harus di spot dan termasuk alasan khusus kenapa aku harus membahas dia: dia teman dekat si Cemen.
Well, kalo mau diingat soal resolusi tahun ajaran baru, seharusnya aku emang nggak harus ngomongin tentang si Cemen lagi. Tapi yah, kali ini ceritanya agak-agak sadis gitu, jadi aku rasa layak lah untuk dibagi ke orang lain.

Cerita di mulai suatu pagi di mana Echa terserang flu yang menyebabkan suaranya hilang, dan hanya tersisa serak-serak nenek lampir.
Hari berjalan seperti biasanya, ada guru disetiap pelajaran dan ada keladi di setiap istirahat siang. Lalu si Cemen, yang entah kenapa di tahun ajaran ini lagi-lagi berada di bangku sebelah, mengeluarkan pas foto miliknya.
Aku langsung kabur, kali-kali aja dia minta tukaran foto (yang bukan tidak mungkin, karena baru-baru ini dia mengajak foto box rame-rame).
Bel masuk berbunyi, dan semua siswa dengan patuh duduk di bangku masing-masing. (boong banget)
Echa lalu berkata dengan suara nenek lampirnya, “Liat aku dapat apa.”
Aku penasaran dan terkesiap melihat apa yang ada di telapak tangannya.
Pas foto si Cemen!
“Jangan bilang kau tukaran poto sama dia,”kataku sangsi.
“Enggak lah,”jawabnya. “Mau kugambar-gambar.”
Ternyata Echa otaknya emang udah rusak. Karena kedengarannya menarik, maka aku pun ikut menggambari pas foto si Cemen tersebut.
Apa aku udah pernah bilang kalau si Cemen itu cantik? Kalau belum, biar kuralat, Cemen itu sangat cantik dan fotogenik. Sangat susah bagiku dan Echa untuk menggambarnya biar kelihatan jelek. (kok kedengarannya kayak cewek-cewek yang iri gara-gara temennya cantik, yah? Biar kuperjelas, aku dan teman-teman yang lain—bahkan yang cowok—nggak suka padanya bukan karena dia cantik. Tapi karena hal lain yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya.)

Bel istirahat kedua berbunyi. Aku dan Echa dan Febi pun pergi jajan.
Saat lagi asyik makan, si Cemen menghampiri Echa.

(Ket: C=si Cemen, E=Echa, A=aku)
C: Cha, kau liat pas foto aku yang 4 x 6 nggak?
E: (Melirik ke aku, lalu menggeleng)
C: Masa sih, tadi kan kau pegang-pegang gitu.
E: (masih menggeleng) Memangnya buat apa?
C: Buat daftar Justitia, yang 4 x 6 tuh cuma itu.. Aduh gimana nih, Cha. Tadi sama kau, kan? (memelas)
E: Coba periksa lagi.
C: Udah, tapi nggak ada. Sama kau kan, Cha?
A: (menahan ketawa)
E: Nggak ada, bener, kok.
C: Plis lah Cha.. Cari di tas dulu kek.. Yah.. (memohon dengan sangat)
E: Nggak ada, bener deh.
C: Sini, kita cari dulu di tas kau. (menarik tangan Echa, mengajak ke kelas)
E: (menggeleng. Suaranya hilang sama sekali)
A: (ketawa ngakak)


Kali ini tentang I’a. Nama yang aneh. Sebenarnya nama lengkapnya Vika Febriyani, cuma karena orangnya sok imut gitu jadi dia maunya dipanggil I’a.
Hubungan kami baik sebetulnya, lagipula dia adalah pembaca setia blog ini dan selalu mengharapkan aku menulis posting baru. Tapi hubungan ini berubah menjadi saling mengejek dan mencemarkan nama baik sejak insiden Tom & Jerry dan dia mulai memanggilku Bunga Citra Lestari (dalam konteks mengolok).

Kadang-kadang aku berpikir, jangan-jangan setiap bersama I’a terjadi sebuah kesialan? (sadis)
Contoh nyatanya saat pergi berenang waktu itu.

Arlia menawarkan kami: Aku, Febi, Echa, Astri, dan Arta untuk berenang di Hotel Kapuas Palace secara gratis—catet yah, GRATIS—karena abang atau siapanya gitu lagi nginep di hotel itu.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan langka itu, kami pun berjanji untuk pergi hari Sabtu. (awalnya sih hari Kamis, tapi karena Arlia musti ngajar les, jadi dia cuma bisa pas weekend.)
Lalu berceriteralah kami kepada I’a dan mengajaknya ikut serta.
Keputusannya, Sabtu sore ngumpul di sekolah, lalu pergi sama-sama pake mobil Santi.

Ada insiden ngaret-ngaretan khas orang Indonesia yang dilakukan oleh aku dan Arta yang selesai dari JS, tapi akhirnya kami pun berangkat.
Adegan masuk mobil bahkan penuh sensasi. Ada yang nggak sengaja nginjek jok lah, apa lah, sampe teriak-teriak nggak jelas.
Tapi akhirnya kami bertujuh pun berangkat ke hotel dengan mulus.

Sesampainya di hotel setelah kehebohan memarkir mobil, kami sedikit curiga melihat banyak ucapan selamat pernikahan.
“Jangan bilang ada kondangan,”kataku. Enam teman yang lain sama curiganya.
Arlia lalu turun dan berinisiatif bertanya pada pihak hotel.

Saat Arlia kembali (asal mau tahu, selama Arlia pergi aku terjepit di antara jok yang dilipat) kami sudah tahu jawabannya.
“Iyah. Acaranya dimulai jam lima, tapi sekarang stafnya udah mulai masangin lilin,”ucapnya.
Berpikir bahwa nggak mungkin kita berenang sekarang dan nggak bisa keluar gara-gara tepian kolam dipasang lilin dan terpaksa memberikan atraksi sekelas olimpiade, maka kami memupuskan harapan kami berenang gratis.
Setelah nongkrong di dalam mobil yang parkir di depan kolam renang hampir sejam, kami pun pulang sambil mengutuk Anita & John, pasangan yang mengadakan resepsi.

Sebenernya nggak ada hubungannya dengan I’a yah, tapi karena kesal dengan I’a ya anggap aja ini kesalahan dia.

Kemaren sore aja dia malu-maluin.
Ceritanya hari itu adalah hari pertama dia ikutan bimbel di JCB. Pelajaran pertamanya Kimia.
Selesai Bu Sin (atau siapapun nama Ibu itu) menjelaskan satu soal, Astri dan Ovi baru datang.
Mendengar suara sandal diseret, tiba-tiba ia tersadar.
“Tunggu,”ucapnya, “memangnya masuk kelas pake sepatu?”
Yang lain mengiyakan.
“Benar lah? Aduh, gimana nih, kamek* lepas sepatu!!”



*bahasa daerah, sebagai kata ganti orang pertama

Sunday, July 13, 2008

Gakko e Ikimasu!!*

Sekolah.
Betapa kata itu adalah kata yang paling dihindari seorang pelajar yang sedang asyik-asyiknya menikmati liburannya.
Yang, omong-omong, bukan aku, yah, karena kisah liburanku adalah kisah tergaring dalam sejarah liburan dunia.

Meskipun begitu!

Meski liburanku benar-benar nggak asyik dan melelahkan karena menjalani kehidupan ganda sebagai kalong sekaligus manusia, tetap saja aku benar-benar merasa kehilangan saat liburan ini berakhir.

Rasa kehilangan ini cukup beralasan yah, mengingat apa yang kusebutkan dalam beberapa posting sebelumnya bahwa aku sekarang kelas XII dan nggak akan bisa bersantai—benar-benar bersantai.
Dan ada satu hal yang lebih mengejutkan sekaligus tragis, melebihi keadaan kamarku sekarang: kelasku nggak akan berubah.
Dan itu hanya berarti satu hal: sekelas lagi dengan si Cemen.

Dam-daradam-jeng-jeng-jreng.

Kehidupan kelas XII sudah cukup melelahkan, apalagi dengan si Cemen berada di sekitar.
Ini bakalan benar-benar melelahkan.

Kalau dipikir-pikir dengan otak jernih tanpa dominasi Toma didalamnya, sebenarnya nggak ada efek langsungnya sih, si Cemen ada di kelas yang sama lagi denganku.
Dia toh jarang sekali menggangguku atau sesuatu semacam itu, kecuali kalau dia satu kelompok denganku dan mengadakan kerja kelompok di rumahnya (seperti kejadian nyata beberapa waktu yang lampau), maka itu baru masalah.
Hanya saja efek nggak langsungnya sangat banyak dan buruk.
Ambil satu: tiada hari tanpa ngomongin dia.
Hari-hari sekolahku yang tersisa dan seharusnya dijalani dengan serius demi menggapai impian yang setinggi langit, akan berubah menjadi hari-hari reinkarnasi ibu-ibu penggosip dengan topik gosipan yang tidak akan berubah sepanjang masa.
Dia. Dia dan kejelekannya. Dia dan keburukannya. Dia dan sisi tidak baiknya. Dia dan seribu satu macam hal yang tidak kusukai darinya.

Maka aku ingin membuat sebuah resolusi tahun ajaran baru, cukup satu, sederhana, dan masuk akal, meski untuk mewujudkannya butuh kerja keras melebihi budak-budak pembangun piramid di Mesir.
Aku tidak akan membicarakannya.
Mungkin masih iya, tapi tidak akan setiap jam, setiap hari, sepanjang tahun.


Sejujurnya aku tidak benar-benar siap menghadapi hari-hari sekolah nanti.
Bukan siap secara fisik misalnya baju, tas, sepatu, atau lain-lain yang baru. Melainkan... apa ya, sebuah kesiapan pribadi.
Aku punya sebuah mimpi besar, yang mungkin memang tidak masuk akal, tapi sebisa mungkin aku ingin mewujudkannya dengan seluruh kemampuanku. Tidak perlu kusebutkan apa.
Kehidupan sekolah yang tersisa inilah yang akan menentukan mimpi itu adalah sekedar khayalan ataukah kenyataan.
Dan aku tidak mempersiapkan apapun. Apapun.

Kalau secara fisik sih, aku punya brand new look.
Hohoho, rambutku dipangkas habis seperti tentara AKABRI.
Bercanda.
Pasrah akan apa yang diputuskan Mbak-Mbak salonnya terhadap apa yang terjadi dengan model rambutku, well, akhirnya terjadi juga.
Rambutku jadi pendek. (yang notabene bukan masalah besar karena biasanya rambutku memang pendek.)

Kata Mbak-nya sih, ini model rambutnya BunCit alias BCL alias Bunga Citra Lestari.
Sayangnya ikon itu terlalu berat untukku.
Nggak ada mirip-miripnya dengan BunCit, aku malah mendadak menjelma menjadi Maruko dari anime Chibi Maruko-chan.
Dengan catatan, Maruko versi enam belas tahun, dan yang pasti, sudah nggak imut lagi.


Yah, mau bagaimanapun, meski menghindar seperti apapun, toh hari esok akan datang juga.
Siap tak siap itu resiko.

Selamat datang dunia SMA... jangan mengkhianatiku.









*Gakko e ikimasu!! = pergi ke sekolah!!
Sebenarnya entah frasa ini benar atau tidak penulis tidak tahu, karena sudah sekian lama penulis tidak ikutan kelas Jepang lagi.
Bagi yang mengetahui frasa yang benar dari versi ini, harap menghubungi penulis bernama Mikochin di cat_jump_up@yahoo.com.
Tidak tersedia imbalan, hanya ucapan terima kasih yang tulus dari hati penulis yang putih suci.

Tuesday, July 08, 2008

Happy Three Friends

Aku bukannya mau ngomongin tupai-tupai lucu sadis (klik untuk lihat videonya), itu mah Happy Tree Friends, tapi ini tentang aku. Jelas ya, ini kan blogku.

Beberapa hari yang lalu aku jalan sama dua sohib lamaku, Lia dan Denata.
Dari pertemuan singkat sarat tawa tersebut, aku bisa mengambil sebuah kesimpulan: Jalan sama Lia dan Denata berarti membuang jauh-jauh apa yang disebut dengan ‘jaim’.

Waktu itu aku pernah menulis tentang ditegur om-om penjaga Gramedia gara-gara numpang baca sambil duduk di lantai.
Itu baru sama Lia. Kali ini ditambah Denata.

Seperti lumpang dan alunya, mereka bersatu padu demi melakukan hal-hal yang bakal dihindari lihat oleh ibu-ibu hamil.
Maka aku, terjepit di tengah, terbawa arus deras yang akan membawaku terjun ke jurang Niagara.

Okeh, tadi itu hiperbola. Mari kuceritakan yang sebenarnya.

Petualanganku dimulai sejak aku melangkahkan kaki di halaman parkir mal. Sendirian.
Kami janji pukul satu siang dan saat itu lewat dua puluh dua menit dari waktu yang seharusnya.
Aku sama sekali tidak merasa bersalah. Toh mereka hampir dapat dipastikan datang lebih telat daripadaku.

Dan benar saja, saat aku sampai di depan pintu masuk, tak kulihat tanda-tanda keberadaan mereka.
Rasanya beberapa ibu-ibu, mbak-mbak, dan om-om sempat memandangku aneh.
Mungkin karena seorang cewek datang sendirian ke mal dan sebelah mata cewek itu tertutup poni sehingga tampak seperti Sadako.
Yah, poni panjang ditambah wajah tanpa ekspresi ini memang ampuh sekali untuk membuat beberapa teman (kira-kira, mm, delapan belas orang) mengataiku seram atau bahkan hantu.

Mengatasi rasa malu karena dipandangi (sayangnya bukan oleh Toma) dan daripada lebih malu lagi karena menunggu di depan pintu seperti pembagi kupon FunStation, aku pun melangkah pasti ke dalam dan menuju toilet wanita.
Sayangnya di toilet lebih buruk.
Karena aku berdiri di dekat pintu toilet, maka setiap orang yang baru masuk akan melakukan ritual memandangku beberapa jenak, barulah menghampiri wastafel atau mencari toilet mana yang kosong.
Aku memperkuat keberadaan diriku sebagai botol karbol raksasa dengan mulai menelepon Lia dan Denata yang tak kunjung datang.

Teleponku tak diangkat.
Aku mencoba berpikir positif bahwa mereka mungkin masih di jalan, bukannya ketiduran dan baru akan berangkat dua setengah jam kemudian.
Dua-tiga kali mencoba, akhirnya berhasil. Denata sudah sampai.
Aku menemukannya di depan pintu, menggenggam kupon “Gratis 1 (satu) Koin di Funstation”.
“Lia mana?” tanya Denata dengan aksen Melayu yang kusensor paksa.
“Belum datang.”
“Tunggu di luar aja, biar gampang nyariin dia. Kali aja dapat kupon ini,” ia mengangkat kupon FunStation-nya, “lagi.”
Maka kami pun menunggu di luar.
Beberapa menit berlalu, dan Lia tak juga datang.
Denata berkata pengin ke toilet dan kami pun masuk lagi ke dalam.
Dan tak lupa, om-om pembagi kupon menyodorkan kupon FunStation ke Denata. Lagi. Dia dapat dua kali.
Padahal aku dapat satu saja enggak. Sungguh suatu penghinaan terhadap wanita berwajah seram.

Akhirnya Lia datang dan angin membawa kami melangkah ke Gramedia.
Saat pede melangkah meski tahu nggak bakal beli, Lia dikejar petugas.
“Mbak, tas-nya musti dititipin.”
Maka Lia dengan bengis menunjuk tas milik Mama dengan wajah penuh kedengkian.
Tasku tak perlu dititipkan.

Setelah capek keliling dan mempermalukan diri (Denata terang-terangan bilang, “Liat-liat jak, tak usah beli,” tepat saat melewati seorang pramuniaga. Bagus, baguss, sekali) kami memutuskan untuk minum karena haus sekali.

Masalah kembali datang.
Karena kami termasuk makhluk super ultra medit yang pernah hidup di dunia, kami pun bingung mau minum di mana karena ini mal, dan semua sarana minum di sini—kecuali keran toilet—memiliki daftar menu yang membuat otak medit kami berontak.
Solusinya: beli minuman di Hypermart, terus di minum sambil jalan.
Sebenarnya aku menolak ide ini, tapi karena kalah suara, maka terpaksalah ikut.

Setelah puas belanja dan ngetawain bencong, kami pun mencari tempat duduk.
Terjadi perebutan psikologis kursi yang seru antara kami dan seorang bapak-bapak solo karir, dan akhirnya dimenangkan oleh kami, mungkin si bapak terintimidasi.

Lalu demi mengabadikan kesempatan jalan bersama yang jarang sekali datang ini, maka kami pun bermaksud membeli oleh-oleh barang yang sama untuk kami bertiga di toko aksesoris cewek.
Di toko mah hampir sejam, ngomentarin barang-barang yang ada.
Entah mahal lah, norak lah, apa lah, pokoknya komen.
Dan akhirnya cuma beli pin kayu bentuk kepala panda yang harganya nggak sampe lima ribu rupiah.
Itu juga buru-buru belinya gara-gara dipandangin terus sama salah satu penjaga toko, risih kali dia, abisnya kita ribut banget dan ngacak-ngacak barang jualan.

Setelah itu sempat numpang duduk di toko sepatu (bayangkan, numpang duduk!), barulah kami keluar dari mal.
Karena laper, motor pun melaju ke Digulis.

Otak medit kembali beraksi saat memesan makanan.

Diskusi sebelum mencatat pesanan

(Ket: A=Aku, D=Denata, L=Lia)

A: Pesan apa nih? Aku sih nasi goreng telor yah, abis yang paling murah.
D: Paling murah? Okeh, aku pesan itu juga.
L: Tunggu, ini ada yang lebih murah, nih.. “Indomie Goreng Tante”! Rp 4000 aja!
D: Eh, iya... Tapi masa indomie lagi. Pake tante lagi. Aku nasi goreng aja lah.
L: Ya udah, aku juga kalo gitu.
A: Minumnya apaan? (ngeliat menu)
D: Yee, sok-sok ngeliat menu. Paling-paling pesennya teh es.
A: Iya juga, sih. Udahlah teh es aja.
L: Entar, ini ada yang bagus ni, murah lagi.
A&D: Apa? Mana? (ngeliat menu)
L: Rp 500, AIR PUTIH ES

Dan akhirnya kami bener-bener pesen itu.
Air putih es.




Oh iya, aku menemukan jawaban tentang template blogku yang warnanya putih-merah ini.
Dulu aku mikir, kenapa putih-merah? Aku nggak terlalu suka putih, apalagi merah.
Lalu aku tersentak.
Blog ini namanya Kandang Mikochin.
Mikochin.
Miko.
Seperti yang kubilang, miko adalah gadis penjaga kuil jinja.
Dan tebak apa warna pakaiannya.
Putih-merah.

Apakah ini... Jangan-jangan ini..., ooooh, takdir???

Saturday, June 28, 2008

Selamat Tinggal

Well, hari ini adalah hari yang penting. Hari ini hari pembagian rapor, atau yang lebih familiar: bagi rapot. (dengan T bukan R, yang entah kenapa, sudah jadi kebiasaan sejak kecil)

Sesuai janjiku di posting-postingku sebelumnya, aku memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Nah, nah, mari teriak bersamaku, ya...
SELAMAT TINGGAL DAUN UBI!!!!!!!

Hohoho, nggak ada kata 'jualan daun ubi' lagi di kamus kehidupan remajaku!
Bibi-bibi penjual ubi, maaf saja, aku nggak jadi meneruskan jejakmu!!
Aku pun nggak akan makan daun ubi!!! (yang, omong-omong, sudah terjadi sejak dulu)


Nah, karena hari-hari under pressure telah terlewati, maka sekarang saatnya memikirkan liburan!! L-I-B-U-R-A-N!!! Libur!! Libur!!
Ayo bervakansi!!

Oh ya, rencana ke Pemangkat tempat keluarga Arta ternyata emang tinggal rencana. Keluarganya yang di Pemangkat malah mau ke Pontianak.
Tunggu, jangan-jangan ini... kutukan Adek Autis????

Tur backpacker, mm, nggak tau bakal jadi apa enggak. Masalah utamanya adalah ketidakpastian rute yang bisa berakibat fatal seperti tersesat, kaki lecet, kehabisan duit, ditipu tukang angkot, sampai dimangsa preman keraton.
Aku memberi solusi untuk memfotokopi kecil peta kota Pontianak yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Astri-Arta-Febi karena peta kota Pontianak yang hendak difotokopi berukuran karpet piknik.

Masalah besar kalau aku nggak punya liburan yang lebih dari sekedar menghabiskan hari di depan komputer dan tipi, karena mataku bakalan rusak lebih parah daripada sekarang, yang mana wajah orang terlihat rata dalam jarak tujuh belas setengah meter.
Belum lagi rasa malu ketika diskusi pasca-liburan dimulai, dimana pertanyaan "Kau liburan kemanakah?" adalah fardhu hukumnya.
Saat teman-teman menjawab semangat tentang liburan asyik penuh petualangan dan sarat makna kehidupan, aku cuma bisa menjawab pelan menahan pilu, "Liburan ke rumah nenek... di samping rumah."

Lagian, ya ampun, tahun ini kan aku udah kelas XII, yang cuma berarti satu hal: nggak ada senang-senang!
Sisa masa SMA-ku itu nanti cuma dihabiskan di sekolah, tempat bimbel dan meja belajar.
Nggak ada itu yang namanya jalan di Shibuya, weekend ke Okinawa, atau Hanami!!
(okeh, meski aku balik ke kelas X lagi pun itu tetap nggak akan terjadi)

Maka dari itulah vakansi dengan destinasi yang lebih jauh dari AnimeNakama sangat dibutuhkan bagi siswa yang rawan stres seperti aku.

Liburan yang aku inginkan... yah, nggak muluk-muluk sih, cuma pingin ke taman hiburan dengan Toma. Bercanda.
Yang benar, aku dan teman-teman senasib pengen ke Singkawang pake bis gitu.
Cuma berempat, tanpa ortu cerewet, dengan bis umum yang biasanya berpenumpang ayam dan sawi.
Itu kalau dibolehkan.

Enak yah jadi orang kaya. Tinggal bilang, "Pa, aku mau ke Harajuku," dan besoknya tiket Japan Airlines udah di tangan.
Coba aku. Kalau bilang, "Pa, aku mau ke Harajuku," besoknya tiket Japan Airlines udah di tangan dan sertifikat rumah di gadaikan.

Sunday, June 22, 2008

Net

Tadi siang aku dan kakak sepupuku, sebutlah namanya Ichi, berangkat dengan si mobek untuk berkelana mencari warnet demi entah apa.



Nah, akhirnya kita nyampe ke sebuah warnet yang nggak terlalu jauh dari rumah, namanya warnet Piip (bukan nama sebenarnya).
Setelah insiden salah buka pintu dan sebagainya, akhirnya kita duduklah di kursi kayu warnet yang sama empuknya dengan kursi kayu sekolahan yang jelek.
Pas duduk, aku ngeliat tulisan yang ditempel di bagian atas monitor, salah satunya berbunyi:
1/5 jam Rp 1500, 1 jam Rp 3000.
Dalam hati aku membatin, ini yang nulis bego atau apa, masa seperlima jam? Maksudnya 1/2 jam kali ya, mungkin salah pencet.
Omong-omong, saat itu aku belum mengerti benar maksud tulisan itu.

Lalu aku mulai bersurfing ria di dunia maya, tanpa dibatasi bisikan hati 'woi, ati-ati tagihan pulsa bengkak' seperti yang selalu kualami kalo main dirumah.
Aku pun berjanji sama Ichi buat stop billingnya sama-sama pas udah 2 jam.

Enam menit menjelang jam kedua... aku dah siap-siap ngeclosin window-window firefox yang kubuka dengan semena-mena. Tapi nggak sadar aku kepincut sama posting-nya Raditya Dika yang belom selesai kubaca. Akhirnya pas selesai baca (bukan satu posting, tapi TIGA), aku nyadar kalo dua jam udah lewat. Pas aku lihat angka tagihan billing-nya, jadi Rp 7500!
Jadi maksud dari ½ jam 1500 tuh ini toh! Rugi dong kalo berenti sekarang!! (otak pedagang)
Makanya aku memutuskan buat main sampe setengah jam lagi.

Tiga menit menjelang jam kedua setengah... aku siap-siap ngeclosin window-window firefox yang kubuka dengan semena-mena (lagi). Eh, e-mail yang mau kukirim gagal. Pas aku selese pencet tombol Resent Message, dua jam setengahnya lewat 3 detik!
Aku liat billing. Jadi Rp 9000!!!
Penipuan berkedok, ini PENIPUAN BERKEDOK!!!!


Um, ada yang sadar nggak ya, kalo aku ganti template?
Yah, cuma orang bego yang nggak sadar kalo template-nya berubah karena drastis begini, tapi maksudku, gimana mau ada yang sadar kalau nggak ada yang baca??
Ini template gratisan sih, bukan template jenius penuh cita rasa seni buatanku sendiri. Tunggu deh, suatu saat aku bakalan bikin layout sendiri.
Tunggu kira-kira, mm, delapan setengah tahun lagi.
Oh iya, shoutbox yang dulu nangkring di sudut sekarang udah nggak ada lagi, padahal baru dipasang nggak nyampe dua bulan. Bukannya aku hapus gara-gara nggak ada yang ngisi yah, meski itu juga, tapi karena pas ganti template, mau nggak mau widget-nya otomatis kehapus.

Kadang-kadang aku berpikir, ini blog masih pantas buat dipertahanin nggak, sih? Mengingat yang baca blog ini dengan setia palingan cuma Ovie dan I’a (thanks to both of you, i love you much) dan temen-temen lain yang berada di bawah todongan senjata.

Baiklah, sudah kuputuskan. Misalnya setelah pembagian rapor aku dinyatakan nggak naik kelas dan berhenti berprofesi sebagai pelajar (kumohon, doakan aku supaya itu nggak terjadi), maka aku nggak akan pernah mengisi blog ini lagi.
Tapi blog ini nggak akan kuhapus, tentu saja, karena ini akan menjadi kenangan yang indah... (sok melankolis, abaikan aja)

Oh iya, satu lagi. Misalnya juga hal itu terjadi (tapi kumohon, doakan aku jangan sampai terjadi), dan masih ada yang pengin baca tulisanku (harapan semu), silakan cari-cari aja blog di search engine Google dengan keyword “Hari-Hari Daun Ubi”, dan kalau ketemu, bisa saja itu adalah blog-ku yang baru.

Friday, June 20, 2008

Over The Sea

Yah, nggak 'sea' tapi tepatnya 'river' alias sungai. Tapi tunggu, maksud judul posting kali ini apa, ya??
Um, mari kuceritakan.

Hari ini, pagi ini tepatnya, aku dan Arta-Astri-Febi berencana buat bolos sekolah dan maen badminton di kompleks Febi. Acara yang cukup dinanti-nanti, mengingat selama beberapa hari ini aku dan Astri cuma bisa ngulum jempol ngeliat temen2 pada main badminton di sekolah. (alasan nggak mau main di sekolah? malu ketauan nggak bisa!!)

Tapi tiba-tiba jam enaman gitu datang sms dari Febi yang sarat bahasa Melayu berbunyi:
maap y.
kykny maen bdmin g jd.ma2 kme ad knsultasi dmas. tp,dmas g ikut.jd kme jge dmas.
lain kali jk y?
maap la!


Jdeer! Hantaman telak tepat sesaat setelah aku baru saja bangun dari tidur.

Tak lama kemudian datang telepon dari Astri.
Berikut~kira-kira~percakapannya. (Perhatian: percakapan ini nggak lulus badan sensor aksen Melayu.)

Astri: Halo, Chi?
Aku: Hoahm.. Halo.
Astri: Jadi ndak kite maen badminton?
Aku: Kata Febi kan ndak bisa maen di tempatnye. Trus?
Astri: Maen di rumah kau bisa tak?
Aku: Hm, bise sih.
Astri: Kalo ndak bisa maen di rumah sapa lagi? Arta jelas ndak bisa. Die kan bilang sama emaknya mau ke sekolah. (bukannya aku dah bilang bisa??)
Aku: Ya, maen rumahku ajah.
Astri: Okeh. Aku dah ajak Ovie sekalian. Arta bilang dia mo datang jam tujuhan.
Aku: Jam tujuh??? Belom mandi, neh??
Astri: Tenang, palingan dia lama datangnya. Oke deh. Dah ye, assalamualaikum.
Aku: Dah. Walaikumsalam.

Harusnya aku langsung mandi, tapi abis turun ke bawah dan minum susu, tiba-tiba aku ngantuk. Jadinya.. aku tidur-tiduran di kamar dengan santainya. Toh, Arta lama datangnya. Masih sempatlah.
Tik tok. Waktu berlalu.

Tiba-tiba terdengar bunyi motor yang sudah kukenal.
Cepat aku melompat dari tempat tidur dan berlari menuruni tangga.

Tok-tok-tok.

Heee? Arta udah datang?

"Ma, gimana ni, temen Chi datang, tapi Chi belon mandi..."rengekku sama Mama, minta dibukain pintu sementara aku bergegas mandi.
"Salah sendiri, coba mandi dari tadi,"jawab Mama sekenanya.

Terpaksa, dengan piyama dan handuk di tangan, aku membuka pintu depan, lalu mempersilakan Arta: "Sori Ta, belon mandi, masuklah dulu..." sambil menutup mulut dengan handuk. Belum gosok gigi!
Dalam hati aku merutuki penghianatan Astri. (lihat huruf yang dicetak tebal)

Intinya... setelah Arta dan Astri datang (minus Ovie, katanya dia pergi ke sekolah. paling mo ngomongin soal liburan ke bandung sama temen2nya. bikin sirik aja) , kita main badminton di halaman depan rumah nenek.
Mainnya nggak lama, karena kemudian kita terpikat oleh sosok mamang bakso pentol di SD depan.
Ide pun terlintas di kepala: mari jajan bakso.
Maka kita pun jajanlah.

Ujung jalan gang tersebut adalah sungai kapuas. Saling menganggukkan kepala tanda persetujuan kami pun memutuskan untuk berkelana sebentar di sana.

Dan, yah... kami datang di saat yang tepat, mungkin.
Sinar matahari pagi membias di permukaan sungai kapuas yang bergelombang tenang.
Karena kita cewek, maka, yah, kita berfoto.

Oh iya, kita juga naik sampan. S-A-M-P-A-N! Seumur hidup nggak ada pernah-pernahnya deh aku naik sampan nyebrangin sungai kapuas.

Kita teriak-teriak ketakutan pas naik. Gila, goyang-goyang gitu.
Malu sama anak-anak SD yang naik enteng aja.

Ah, rasanya pengen main lagi!!

Wednesday, June 18, 2008

Rencana Oh Rencana

Buang jauh-jauh impian untuk kuliah di Jepang.
Sekarang waktunya Afrika Selatan!!!!

Nggak, deh, boong banget.
Aku cuma lagi kesal, cuaca akhir-akhir ini panas banget, dan, yah, bikin item kulit!!!
Jadi cemas, rencana tur keliling kota ala backpacker sama Febi-Astri-Arta bakalan jadi nggak, yah? Kalo panas banget, aku khawatir ntar kita mati kepanasan dan dehidrasi di tengah jalan.

Tur ala backpacker ini adalah salah satu harapan terakhir pengisi liburan akhir tahun ajaran nanti. Aku udah eneg dengan liburan ala hobi yang selama ini kulakukan: baca, nonton, tidur. Bosan dengan rutinitas kalong. Mual dengan kamarku yang pengap dan mirip tempat pembuangan akhir.

(Promosi singkat: Ayo, ayo, bergabunglah dengan tur ala backpacker bersama siswi-siswi SMA yang unik dan penuh pesona!! Murah meriah!! Jika berminat silakan hubungi saya untuk keterangan lebih lanjut.)

Pilihan lainnya adalah ikutan Arta pulang kampung ke Pemangkat.
Dibalik rumah ada gunung beserta air terjun dan di depan rumah ada pantai yang terhampar.
Belum-belum udah bikin ngiler.

(Promosi singkat: Ayo, ayo, bergabunglah dengan tur pulang kampung bersama siswi-siswi SMA yang unik dan penuh pesona!! Murah meriah!! Jika berminat silakan hubungi saya untuk keterangan lebih lanjut.)

Hanya saja rencana-rencana tersebut bisa buyar seketika kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam menghadapi hal paing berat sepanjang sejarah satu semester: pembagian rapor.
Kalau nilaiku terlalu jelek atau bahkan nggak naik kelas, itu hanya berarti satu hal: "Selamat tinggal dunia remaja yang indah, biarkan aku berpetualang dari rumah ke rumah sebagai Bibi Penjual Daun Ubi."

Aku nggak benar-benar tahu apakah nilai jelekku nanti (ya, sudah pasti jelek, aku tahu itu) ada sangkut pautnya dengan karma gara-gara menuduh seseorang sebagai pengidap autisme.
Biar kuceritakan.

Waktu ulangan semester kemarin, seperti biasanya, satu kelas terdiri dari campuran dua kelas berbeda angkatan.
Nah, kelasku mendapatkan anak-anak kelas XA. Petualangan pun dimulai.

Temen sebangkuku, siswa kelas XA tentunya, adalah cowok tinggi besar dengan cambang (atau apapun namanya) bernama Lele (bukan nama sebenarnya).

Cowok itu tidak menyontek, bertanya pada teman, atau menarik buku dari bawah meja.
ini jenius atau apa.

Cowok ini punya posisi duduk yang aneh. Biasanya orang yang sedang serius ulangan biasanya mencondongkan kepala ke kertas ulangan, tetapi dia tidak. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
Oke, aku maklum. Mungkin dia punya gaya favoritnya sendiri.

Cowok itu berbicara sendiri.
Oke, aku maklum. Orang juga biasanya begitu kalau sedang ngerjain ulangan.

Cowok itu menjawab sepatah dua patah kata yang nggak jelas maknanya saat aku bertanya padanya apa yang dikatakan guru di depan kelas.
Oke, aku maklum. Mungkin dia sedang serius mengerjakan ulangannya.

Cowok itu tertawa sendiri.
Oke, aku maklum. Ada orang yang suka tertawa sendiri.

Cowok itu nggak pernah kulihat berbicara dengan siapapun, kecuali cewek di depannya, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan "Fit", entah namanya fitri, epifit atau bonafid.
Oke, aku maklum. Mungkin aku saja yang nggak pernah lihat.

Lama-lama, kalau dipikir-pikir secara masak-masak, kok kayak tanda-tanda orang autis yah??

Dan, yah, tanpa sadar (sebenarnya sadar sesadar-sadarnya) aku selalu menyebutnya sebagai "Adek Autis" setiap kali aku dan temen-temen ngebicarain masalah temen sebangku.

Wahai Adek Autis yang di sana.. maafkan beta telah menghina dirimu...
Jangan kau kutuk beta menjadi Bibi Penjual Daun Ubi dan membuat segala rencana liburan hanya tinggal rencana....

Monday, June 16, 2008

Bayangan Masa Depan

Akhir-akhir ini beberapa pikiran aneh melintas di benakku.
Salah satunya adalah: gimana masa depanku nanti???

Aku nggak bisa ngebayangin aku bakal kayak apa beberapa tahun ke depan. Bener, deh.
Makanya, kadang2 aku berpikir, kayaknya aku bakal mati muda. (yah,aku emang menderita hipokondria*)

Gini deh, aku bisa aja ngebagi siswa-siswa di sekolah jadi beberapa kelompok.
Nah, setelah sekian lama, mari buat daftar.

1. Siswa Akademis.
Dengan nilai akademis di atas rata-rata dan menganut faham nilai delapan puluh adalah menyedihkan, siswa yang masuk golongan ini tinggal bersiap-siap mengajukan PMDK, beasiswa, atau ikut tes ikatan dinas (yang kemungkinan besar bakalan diterima), dan nggak perlu luntang-luntung cari universitas negeri dan belajar mati-matian sampe botak demi SPMB.

2. Siswa Berbakat.
Nilai akademisnya mungkin biasa-biasa saja, namun punya bakat khusus yang mampu membuat daftar nilai di raport hanyalah fana.
Kelak akan menjadi personel band terkenal, penulis best seller, atau pelukis kenamaan.

3. Siswa Rupawan.
Mungkin nilai akademisnya biasa-biasa juga, nggak punya bakat menonjol, tapi punya wajah kualitas sampul majalah.
Lulus SMA ikutan casting dan langsung terjun ke dunia entertainment yang glamour dan bergelimang harta.

4. Siswa Investor.
Tidak punya hal-hal khusus untuk dibanggakan, hanya saja punya orangtua dengan perusahaan yang menggurita.
Menjadi pewaris usaha orangtua dan berpeluang menjadi finalis 10 eksekutif muda paling sukses dan terkenal seantero negara dan diincar makhluk-makhluk lajang se-Indonesia.

5. Siswa Biasa.
Masa depan suram.


Benar-benar kesenjangan sosial.
Misalnya variabelnya kelas XI IPA 1, maka 50% adalah anak tipe 1; 47,5 % tipe 2-4; 2,5% persennya tipe 5.
Si 2,5% yang beruntung itu adalah aku. Siapa lagi, coba?

Aku emang punya masa depan sesuram goa hantu.
Sehancur puing gempa.
Semenyedihkan semburat jingga langit senja.



*jgn mikir yg seram dulu... ini bukan semacam kanker atau apa, tapi penderita hipokondria biasanya yakin bahwa ia memiliki penyakit serius tanpa ada bukti yang objektif (intinya: hiperbola)

Tuesday, June 03, 2008

Gila Pra Ujian

Pernah menghadapi sesuatu yang terlalu sulit, terlalu rumit, bahkan terlalu melelahkan untuk sekedar kita pikirkan?
Begitulah kira-kira yang terjadi pada diriku sekarang ini.

Besok dan seminggu kedepannya adalah hari menegangkan sedunia, dimana hidup mati ku akan kugantungkan pada enam hari penuh onak dan duri tersebut. Tebak apa: ujian semester.

Kubilang menggantungkan keputusan hidup atau mati ku karena jika nilai semesterku hancur, maka nilai raporku juga bakal hancur (karena notabene ulangan harian ku bahkan jauh lebih hancur dari sikap si Cemen), dan itu berarti aku tidak akan naik kelas, dan Mama akan mencekikku sampai mati, atau kalaupun aku masih hidup, aku akan disuruh berjualan daun ubi.
Sebenarnya frasa yang tepat adalah keputusan hidup atau mati atau jualan-daun-ubi, tapi berhubung jualan-daun-ubi sama sekali nggak terdengar oke, kuputuskan menuliskannya hidup atau mati saja.

Ujian semester memang membebani pikiran, tapi seakan itu belum cukup, datanglah bertubi-tubi tugas yang harus diselesaikan besok.
Besok, lho, besok! Dimana jadwal ulangannya adalah Matematika dan PKn!
Okeh, PKn emang nggak patut dicemaskan, karena, omong-omong, siapa yang mau belajar PKn kalau besok ada ulangan Matematika?
Pasti bukan aku.

Yah, hari ini memang cukup buruk, bahkan dimulai dari pagi harinya.
Pagi ini, aku tiba-tiba sangat-sangat-sangat menyukai lagu Bonnie Pink yang judulnya It's Gonna Rain. Karena tragedi abu-abu plastik yang menyebalkan. Biar kuceritakan.

Setiap pagi aku bangun mepet-mepet waktu sholat dhuha, alias kesiangan. Pokoknya, dimana Papa dan Dedek sudah melesat menembus keramaian jalan raya, aku baru selesai mandi.
Great.
Lalu jam setengah tujuh, hujan mulai turun.
Aku selesai berkemas dan siap berangkat baru pada pukul enam empat lima. Dan, yah, hujan.
Tak ada Papa yang bisa nganterin.
Artinya? Mesti pake mantel. M-A-N-T-E-L.

Mama memaksaku pake mantel, meski aku menolak habis-habisan. Tapi ibu-ibu emang punya tenaga dalam yang bisa membuat orang tak berdaya: aku terpaksa pake mantel.

Maka melajulah aku ke jalan raya dengan mantel abu-abu laknat itu, dan menggumamkan sebaris lirik lagu It's Gonna Rain: Daikirai ame nanka...*

Pake mantel merupakan pengalaman buruk. Aku hampir mati kehabisan napas karena mantel nista itu menjerat leherku dan membuatku kesulitan bernapas, seakan dicekik. Belum lagi pandangan orang-orang, dimata mereka aku pasti ibu-ibu aneh yang pengen belanja ke Pasar Flamboyan. Bener, deh.
Nggak lagi-lagi aku ke sekolah pake mantel.

Di sekolah, kenyataan besar seakan menjeratku dalam pasir isap yang tiada berujung.

Tugas biologi mesti dikumpulin besok.
Aku terkesiap. Mana mungkin fotokopian-fotokopian gila itu masih utuh kalau dipegang denganku??

Tugas TIK mesti dikumpulin besok.
Bagus... bagus, sekali. Dia (guru TIK-ku) pikir tugas itu semudah perkalian satu???
Banyak... dan menyebalkan!!

Semua hal membuatku tambah gila.
Maka aku dan tiga orang temanku; Arta, Astri, Ovi, mulai berkeliaran di kelas seperti orang gila.
Mulai dari Ular Naga, Cheers Wannabe (Febi as MC), RONCAR Anti Maling Live Show (Febi as MC), sampe akhirnya Main Jengkal.

Ada yang nggak tau main jengkal?
Itu semacam permainan anak tradisional, yang, omong-omong, nggak jelas esensinya.
Pokoknya di permainan ini, kaum adam; Shiddiq, Wahyu, Ridho, Akim, mulai ikut berpartisipasi.

Aku dan Astri jaga, saling berpegangan tangan untuk membentuk formasi-formasi aneh untuk dilompati.
Permainan ini thrill-nya cukup tinggi, terutama bagiku dan Astri karena resiko terinjak, tertendang, tersepak, dan terluka sangatlah besar, mengingat para pemain menggunakan sepatu (yang cowok).

Selesai main, lanjut ke permainan Lubang Buaya, khusus untuk cowok, karena sangat nggak fair dan berbahaya buat cewek.
Karena dirasa sangat nggak adil, kita beralih ke permainan lain.

Main DoMiKado.
Semacam main saling tepuk tangan kawan disebelah, pokoknya semacam itulah.
Heboh, penuh teriakan dan umpatan, ajang yang paling tepat untuk menepuk keras-keras telapak tangan teman kita tanpa beresiko di tampar.

Main Gembel.
Permainan dengan kedua jempol tangan masing2 pemain. Agak sulit untuk main dengan 8 orang, karena, omong-omong, jadi ada 16 jempol.

Kecapekan dan merasa bau keringat, kami pun bubar.

Jam pelajaran terakhir adalah jam Bu Nunung.
Ulangan.
Sialan.

Kita disuruh membaca sebuah cerpen di buku, dan tebak apa soal ulangannya: menulis ulang cerpen tersebut!
Damn shit.

Kenapa kelasku, XI IPA 1, yang sensasional dan dicintai para guru ini musti mendapatkan guru standar rendah semacam itu???

Aku mengerjakan ulangan dengan setengah hati, tapi entah kenapa aku berhasil menceritakan ulang cepen tersebut sebanyak satu lembar.
Omong-omong, ulangannya cuma lima belas menit.

Lalu pas pulang, papan tulis pun penuh tulisan yang isinya kisi-kisi ulangan Fisika dan Biologi.
Aku malas mencatat. Dan ngacir pulang.

Kenapa di sekolah tadi aku harus bermain-main dengan bodohnya alih-alih belajar matematika atau ngerjain TIK?

Kenapa pula aku malah duduk di depan komputer dan menulis posting ini???



*I really hate the rain...

Saturday, May 24, 2008

All First Time

Kadang-kadang kita mencapai suatu titik dimana kita benar-benar dilanda suatu kebosanan tingkat tinggi.
Jika hal itu terjadi padaku, biasanya aku akan mengenang kali pertama kita mengalami hal itu. Aku akan merasa lebih baik saat itu.
Sekarang, aku ingin mengingat semua hal disaat aku melakukan atau merasakannya untuk pertama kalinya.


Saat aku pertama kali dilahirkan... well, mana aku ingat. Lagipula, memangnya ada kali kedua untuk di lahirkan?

Saat aku pertama kali belajar bersepeda... saat itu menyenangkan. Sepeda roda empat berwarna ungu dengan boncengan itu adalah hadiah yang terindah. (Pada saat itu. Sekarang??)

Saat aku pertama kali bisa membaca Bobo... entahlah, aku tidak ingat. Karena Mama selalu membacakannya untukku saat aku masih belum bisa membaca. Omong-omong, aku nggak butuh waktu lama untuk bisa membaca tanpa mengeja, lho.

Saat mendapat tas pertamaku... Tas kecil berbentuk setengah lingkaran itu dulu selalu kupegang dengan sayangnya, membuatku membayangkan, seperti apa rasanya sekolah?

Masuk sekolah pertamaku... TK Islamiyah memang bukan TK besar, tetapi aku punya banyak kenangan di sana. Aku yang menangis karena ditinggal Mama, makan sate setiap hari Sabtu, angan-angan menjadi dirijen waktu upacara, rebutan kursi atau pensil, pamer kotak bekal, seorang cewek yang dulu sangat membenciku entah kenapa (dan sekarang dia satu sekolah denganku di SMA ini, ha), sampai saat aku didorong jatuh dari jembatan dan tercebur ke genangan air di bawahnya.

Disuntik pertamaku... untuk sebuah luka bakar yang bekasnya nggak akan pernah hilang di punggung telapak tangan kananku.

Cinta pertamaku... Mm, kalau dipikir-pikir, kalau memang benar cowok itu cinta pertamaku, maka aku hebat sekali bisa mencintai orang lain selama dan setulus itu. Tapi, yah, kurasa dia memang pantas untuk kucintai.

Kucing pertamaku... bukan Blacketet. Ia mungkin kucing yang paling kucintai, tetapi bukan yang pertama. Kucing pertamaku namanya si Belang, nama standar khas kucing yang diberikan oleh mamaku. Kalau saja aku sudah memahami seni menamai kucing saat itu, aku mungkin akan menamainya dengan nama yang setipe dengan Blacketet, Chiko, Mikochin, atau Pci-Pci, yang berarti satu hal: nama dengan huruf C di dalamnya.

Pertama kali masuk SMP... aku bisa gila dengan lantai yang terbuat dari kayu. Belum lagi buku yang dipinjam dari perpustakaan, jadwal yang harus dicatat sendiri, ditambah lagi tahun itu tahun pertama uji coba KBK, yang, omong-omong, baru sekolahku sendiri yang mengaplikasikannya.

Pertama kali masuk SMA... aku bisa stress berat saat tahu sekolah seperti apa yang kuhadapi. Gedung bobrok, dinding bolong, kursi yang harus diseret sendiri dari gudang (atau kelas lain? entahlah), juga teman sebangku dari sekolah yang namanya saja baru kudengar. Aku merasa ditipu saat banyak yang bilang itu sekolah nomor satu. Belum lagi MOS selama seminggu... Aku benar-benar beruntung tidak jadi gila.

Pertama kali punya komputer... Aku merasa bisa melakukan apapun dan akan jadi programmer sesukses Gates.

Pertama kali kenal internet... saat aku kelas 6 SD atau kelas 1 SMP. Mainanku hanyalah ketawaketiwi.com atau nggak mIRC. Omong-omong, mungkin aku kenal internet lebih lama dari itu jika membuka Teletext dari TV merek Toshiba yang berisikan berita-berita situs-situs internet, bahkan humor dari ketawaketiwi.com bisa dianggap kenal internet. Itu waktu kelas 2 SD.

Bikin e-mail pertamaku... waktu kelas 1 SMP. Lagi hobi-hobinya maen internet di rumah pake TelkomNet dan bikin tagihan telepon membengkak. Aku bikin e-mail di Plasa yang, omong-omong, bikin account aku penuh banget dengan spam. E-mail address ku pun norak banget, entah apa namanya, aku lupa, tetapi sudah pasti norak. Aku juga punya temen mail waktu itu, yang address-nya aku dapet dari majalah KaWanku.

Nulis blog pertamaku... waktu kelas 3 SMP. Masih bego-bego banget dan tulisanku masih nggak bermutu. Mm, sampe sekarang.

Punya laptop pribadi pertamaku... penipu. Aku nggak punya laptop pribadi. Seenggaknya belum lah. Tunggu aja.

Jalan-jalan di Jepang pertamaku... makin penipu. Aku nggak pernah ke Jepang. Seenggaknya sekarang. Mungkin besok, minggu depan, tahun depan... entahlah. Pokoknya aku yakin akan ke sana. Dan bila saat itu tiba, aku akan dapat menuliskan 'Jalan-jalan di Jepang pertamaku...' di blog dengan sempurna.

Thursday, May 22, 2008

Balada Film Tercinta

Cerita ini dimulai kira-kira setengah tahun yang lalu, dimana guru bahasa indonesia-ku masih Bu Fatmawati yang gemar bercerita dan membangkitkan semangat menulis dan merupakan guru tingkat nasional; bukannya guru aneh tak punya cita rasa sastra dan nggak punya pendirian untuk bisa menilai pekerjaan muridnya sendiri serta cara mengajar yang benar-benar buku (hanya bedanya buku tidak berbicara atau tertawa garing), bernama Nunung, eh, maksudku, BU Nunung.

Saat itu aku masih murid kelas sebelas ipa yang polos, belum mengalami dendam kesumat atau kebencian mendalam atau kejijikan akut atau sesuatu semacam itu dalam kehidupan sehari-hari ku, terutama sekolah.
Aku merasakan sensasi aneh saat Bu Fat memberi tugas untuk semester depannya. Sensasi aneh itu bernama senang.
Cukup aneh mengingat bahwa nggak mungkin ada siswa SMA normal yang senang diberi tugas, bahkan yang schoolaholic sekalipun.
Tapi ini bukan tugas sembarang tugas. Tugas ini bertitel "Membuat Film". Ha.

Kira-kira aku bisa membuat alasan kenapa aku bisa menyukai tugas yang satu ini. Dan untuk menjelaskan hal itu, kita butuh daftar.

Alasan Kenapa Aku Menyukai Tugas yang Diberikan Oleh Seorang Guru di Sekolah dan Bukannya Mencak-Mencak Saking Kesalnya atau Melancarkan Aksi Mogok Sekolah

1.Karena tugas ini tugas membuat film. FILM. F-I-L-M. Pilem. (ejaan Melayu)
Maksudku, selama sisa hidupku di luar SMA nanti, kapan lagi, sih, aku bakalan bisa ngebuat film?
Aku nggak pernah punya cita-cita buat jadi sutradara atau ngambil jurusan sinematografi atau hal-hal semacam itu, jadi buatku ini adalah kesempatan sekali seumur hidup.
Seperti Ir. Soekarno yang memutuskan untuk menjadi Presiden RI yang pertama, membuat film juga momen sekali seumur hidup seperti itu, hanya saja tidak terlalu ekstrim dan mengubah hidup banyak orang.

2.Dapat pengalaman baru, yang bisa ku kenang bertahun-tahun kemudian (okeh, alasannya nyangkut-nyangkut masa depan melulu).
Suatu saat di masa depan, dimana aku dan teman-temanku mungkin udah nggak sama-sama lagi (karena aku di Jepang, ehem), nonton film ini mungkin bisa menjadi cara tepat untuk bernostalgia, bahkan hingga berurai air mata.
Kalau film itu film komedi, mmm, mungkin akan berbeda.

3.Berniat tulus dan mulia untuk memarakkan dunia perfilman indonesia yang bobrok.
Mungkin film yang kami buat bisa memenangkan penghargaan atau apa, dan membuat film itu diputar di bioskop-bioskop seluruh indonesia bahkan seluruh dunia (harapan semu, dan, omong-omong, komersil).

4.Satu-satunya kesempatan nampang, euy!
Mungkin suatu saat aku berteman dengan seorang artis yang sering main film, dan misalnya dia lagi nyombongin film-filmnya, aku tinggal bilang "Aku juga pernah main film, kok!" dengan wajah tak kalah sombong dan menang jelek.
Misalnya dia nanya film apa, diam aja, atau gigit lidah sekuat-kuatnya sampe berdarah-darah dan dilarikan ke rumah sakit biar nggak perlu menjawab pertanyaannya.

Begitulah, akhirnya satu kelas pun menyetujui tugas tersebut dengan janji akan selesai semester depan sehingga kita tinggal menonton bersama.

Tapi janji hanyalah janji, dan lidah tak bertulang.

Semester depannya, Bu Fat digantikan dengan guru bahasa indonesia kelas ips bernama Bu Nunung.
Dan di semester tersebut, kedok salah seorang anggota kelompok kami, telah terbuka dengan sangat lebar.
Saat itu, barulah aku merasakan apa yang disebut dengan dendam kesumat atau kebencian mendalam atau kejijikan akut atau sesuatu semacam itu; aku satu kelompok film dengan si Cemen.

Satu hal yang menguntungkan dari Bu Nunung, kami mampu membujuknya untuk menunda-nunda batas waktu pengumpulan tugas, karena, yah, selama satu semester sebelumnya, kami belum melakukan persiapan apapun. Memikirkan ide cerita juga tidak.
Tetapi pada akhirnya penundaan tak dapat ditolerir lagi, sehingga kami terpaksa memplagiat (MEMPLAGIAT, ha, betapa rendahnya), drama yang pernah Ovie dan Febi tampilkan waktu SMP, saking nggak ada idenya. Itupun setelah pergulatan yang panjang.
Maka gugurlah semua alasan yang kubuat untuk menerima tugas tersebut; lebih baik seandainya dulu tugas tersebut tidak kami terima.

Tapi bagaimanapun kami harus menjalaninya.
Hari-hari syuting yang panjang, melelahkan, dan cukup panas di telinga karena aku dimarahi ortu gara-gara pulang malam gara-gara syuting.
Belum lagi dilema gara-gara satu kelompok dengan si Cemen. Oh!!!
Kami nggak ada yang mau rumahnya didatangi oleh si Cemen, sehingga kami pun memutuskan untuk syuting di rumahnya, TETAPI APA YANG TERJADI???

Berhari-hari kami melakukan syuting di kediaman gadis itu, BERKALI-KALI, tetapi bayangkan saja, tak sekali pun--TAK SEKALI PUN--ia memberi kami minuman!!!
Nggak dikasih minum!!
Dia pikir kita onta yang tahan lama tanpa aer!! Dasar Arab pelit!!!

Kita bahkan beli minuman sendiri di depan rumahnya!! Ha!!
Ya ampun, manusia itu hatinya terbuat dari batu atau malah nggak punya hati, sih???
Kita juga bahkan membeli makanan sendiri dan dimakan di rumahnya!!
Tanpa piring, bener-bener cuma numpang makan, tanpa disediain apapun sama dia!!
Dasar makhluk upilan!!!

Okeh, udah-udah aja maki-maki si Cemen. Bikin suntuk aje.
Pokoknya, setelah perjalanan syuting yang panjang dan menyebalkan tersebut, akhirnya proses syuting pun selesai!! Hore!!
Bye-bye Cemen!! Bawa saja piring dan gelasmu ke alam kubur!!

Tapi tragedi datang kemudian. Hari ini tepatnya.
Hari ini ada acara di sekolah, namanya SBSB (Sastrawan Berbicara Siswa Bertanya), event nasional yang luar biasa garing bagiku. Dan menuai pro kontra bagi kelompokku.

Begini, di SBSB ada acara parodi yang diisi oleh anak-anak Snapycation (ekskul-ku! Tapi aku bahkan nggak tau kalo mereka bakal nampilin parodi. Kayaknya tanpa aku udah dikeluarkan dari keanggotaan, deh). Dan coba tebak apa yang mereka tampilkan.

Film kami!
Film yang kami plagiat itu!

Mampus. Film kami pasti bakalan basi.

Kami mulai menduga-duga, apakah ini Kutukan Si Cemen (baca: si Cemen ngedatengin sial) atau Azab Karena Cemen (baca: azab gara-gara men-sial-sial-kan si Cemen)?
Entahlah, yang manapun.
Film kami akan tetep basi.

Padahal film itu sudah cukup basi sejak Cemen bermain di dalamnya.

Tuesday, May 20, 2008

Style Thief

Aku baru pulang dari JJGKM, atau yang lebih enak jika kita sebut dengan Jejegekem (Jalan-Jalan-Gila-Kena-Macet).
Hei, ini macet bukan sembarang macet. Macet kali ini gara-gara Pekan Gawai Dayak. Buat orang Pontianak yang nggak tahu ini, silakan nyeburin diri ke Sungai Kapuas, tapi buat orang luar Pontianak yang baca (harapan semu), biar kujelaskan.

Pekan Gawai Dayak adalah... mm, suatu... mm.. okeh, aku nyerah. Bentar, aku cari sumber. Silakeun klik di sini">

Nah, itulah dia si jali-jali, maksudku si Gawai Dayak.

Aku lumayan suka ngeliat acara-acara macam begini, lucu aja ngeliat mereka pake baju adat dan nari-nari diatas mobil pick-up. Bener, deh. Bagi Anda yang pernah menyaksikannya pasti bakal berpikir begitu.
Satu-satunya hal yang kubenci dari semua ini adalah MACET-nya, ya ampun!!
Ini musim kemarau, sinar matahari di musim ini bisa menjadi alat tenning yang paling ampuh, juga memultifungsikan aspal menjadi papan penggorengan.
Dan ini juga tanah khatulistiwa, dimana matahari dapat berada tepat di atas kepala dan bersiap memanggang apa yang ada di bawahnya.
Dimana berada di jalan raya dengan kendaraan tanpa atap adalah sebuah petaka.
Kena macet pula!
Ha!

Suatu saat, jika hal ini akan terjadi lagi, aku nggak akan segan-segan memakai aftershave. (boong banget. lagian nggak punya juga. omong-omong, aftershave apaan?)

Satu hal bagus hari ini. Aku membeli sebuah novel berjudul To Kill A Mockingbird karya Harper Lee. Hohoho. Akhirnya aku punya juga novel yang berbonuskan pembatas buku.


Mm, sesuai judulnya, di posting kali ini aku emang lagi pingin ngebicarain tentang pencuri gaya, yang identitas aslinya adalah si Cemen (okeh, ini emang bukan identitas asli melainkan nama yang telah kuciptakan sebelumnya untuk melindungi dirinya yang begitu memukau).

Aku lebih senang menyebutnya pencuri gaya dibanding copy cat bukan berarti karena dia punya modus operandi, tetapi melainkan karena setiap gaya yang telah ditirukannya, tidak akan pernah sudi dipakai oleh si pemilik asalnya, meski dengan beberapa perkecualian (aku). Satu alasan lagi, nama copy cat terlalu manis untuknya, terutama bagian 'cat'-nya, karena, omong-omong, tapak kaki Blacketet yang kotor saja tidak lebih menjijikkan dibanding dia (sadis).

Pencuri gaya. Gaya yang kumaksud bukan desain busana atau sesuatu semacam itu, melainkan, apa ya, semacam tindakan unik yang biasa kita lakukan berulang-ulang tanpa kita sadari.
Misalnya, dimana seluruh orang dunia mengupil dengan jari kelingking tangannya sendiri atau alat pengupil (kalau ada), kita menggunakan jempol tangan orang lain. Ya, gaya seperti itulah yang kumaksud.
Dan dia mencurinya! Maksudku, mencuri gaya saja sudah menjijikkan, tetapi lebih menjijikkan lagi mencuri gaya orang yang mengupil dengan jempol orang lain.
Ah, tapi dia tidak mencuri gaya orang manapun yang mengupil dengan jempol orang lain. Setidaknya belum.

Dia pernah mencuri gayaku.
Gayaku benar-benar bukan gaya yang oke, sungguh, malah terkesan barbar, tetapi tetap saja dia menirunya. Dan bukan hanya satu, tetapi LIMA. Biar kubuat daftar.

1.Aku muak dengan namaku maupun nama panggilanku yang pasaran, sehingga aku memutuskan membuat nama baru yang cukup unik dan mengumumkannya kepada teman-temanku. Ia mendengarnya.
Besoknya, ia menyebut dirinya dengan nama baruku itu.
(well, ini mungkin adalah pencurian nama, bukan pencurian gaya, tapi setidaknya tidak terlalu jauh dari konteks. Kata dasarnya tetap 'curi'.)

2.Aku punya kebiasan buruk dimana aku senang mengacak-ngacak rambutku dengan brutal tanpa sadar saat aku sedang cemas atau bingung.
Waktu ia bercerita pada Echa tentang kebingungannya mengenai entah apa, ia mengacak rambutnya. Dasar rubah betina.

3.Kata-kata keluar dari mulut tanpa sengaja, dan aku punya kata-kata andalan yang selalu kuucapkan hampir setiap saat pada anggota bipbip dan juga I'a.
Sekali lagi, ia ikut-ikutan mengatakannya.

4.Aku senang tertawa. Itu membuatku bahagia. Hanya saja kebahagiaanku itu membawa pengaruh buruk pada orang disampingku, karena saat aku mulai tertawa sangat hebat, aku akan memukul siapapun/apapun yang berada di dekatku kecuali Winda (aku tak tega menyakitinya), si Cemen (begitu menjijikkannya), cowok (no comment) dan wajan berisi minyak panas serta hal-hal lain yang tak patut di pegang.
Bahkan perilaku tak terpuji ini mulai ditirunya! Ha!

Omong-omong, mungkin ada yang menyadari kenapa cuma ada empat poin dan bukannya lima seperti yang kutuliskan secara spektakuler di atas.
Alasannya adalah karena LIMA mempunyai impact yang lebih besar di banding EMPAT yang terdengar tanggung. Coba rasakan sendiri.
Yah, aku bisa saja menuliskan LIMA KURANG SATU, tapi itu bahkan terlihat lebih nggak oke.

Dia berkiprah di bidang curi-mencuri ini belum lama, tetapi tidak sedikit gaya yang berhasil di curinya.
Aku tidak bisa menuliskannya satu persatu berhubung aku nggak bakalan bisa menggambarkannya dengan baik, dan juga aku mulai malas untuk lebih banyak membicarakan tentangnya.
Sudah cukup membicarakannya di kelas, di les, di jam kosong, di ekskul, di mal, di musholla, dan di rumah teman.

Tuesday, May 13, 2008

Jangan Abaikan Pesan Orangtua

Barusan... sangat barusan.. aku mengalami hal bodoh yang kupikir merupakan azab gara-gara mengabaikan pesan Mami tercinta (okeh, mungkin emang udah pasti azab, bener deh). Biar ku ceritakan.

Hari ini Asutarin (well, lama-lama capek juga nulis namanya panjang-panjang. mulai sekarang kita tulis namanya dengan benar: Astri)ngadain makan-makan dalam rangka ultah doski yang ke tujuh belas. Suit sepentin, euy! Dirinya pun mengundang para undangannya sekalian untuk datang ke rumahnya jam empat.
Okeh, karena ini Indonesia, jangan harap ada yang datang jam segitu, karena bahkan aku si Jepang ini (ehem, ehem) datang jam setengah lima dan itupun masih suangat sepi.
Tanpa kado. Drama lama.
Dan coba tebak makanan (alasan utama para undangan hadir ke tempat orang yang diundang)apa yang disajikan di meja?
Sate.
Ya Tuhan, sate lagi.
Drama kamuflase tusuk sate pun akan kembali dimulai.
(Keterangan tambahan: Penampilan perdana drama "Kamuflase Tusuk Sate" di ultah Laila, terima kasih untuk Astri yang menghabiskan sateku dan menyumbangkan tusuk satenya di piring bekas makanku sebagai hiasan. Penampilan kedua di ultah Arta, terima kasih untuk Febi dan Ovie yang menghabiskan sateku dan menyumbangkan tusuk satenya di piring bekas makanku sebagai hiasan.)

Aku yang lupa ngasih tahu ibunda, yang sedang pergi keluar, bahwa aku juga sedang pergi ke rumah Astri pun mengirim sms pemberitahuan (contoh nyata anak yang berbakti pada orangtua: kalau mo pergi kemana-mana bilang dulu).
Mama pun me-reply dengan jawaban singkat tapi padat aksen Melayu : "Ye, jangan sampe malam."

Hanya saja demi menunda penderitaan dalam melakukan drama "Kamuflase Tusuk Sate" (bayangkan, karena drama ini aku cuma makan lontong doang. Lontong oh lontong!)tanpa sadar hari sudah maghrib saat aku mulai makan. Means one thing: pesan mama tlah kulanggar.

Tapi aku tetep santai-santai aja. Maksudku, yah, maghrib ini, kok. Aku toh bukannya pulang jam 12 malam kayak si Cinderella. Jadi selesai makan, aku pun berbasa-basi sedikit, baru memutuskan untuk pulang (biar nggak dituduh SMP = Selese Makan Pulang).

Maka aku pun mem-baibai-kan anak-anak lain yang masih di rumah Astri, sambil membatin nista, "Siap-siap, lu pade bakal dijadiin babu buat beres-beres," dan melenggang menuju si mobek tercinta.

Angin malam menghembus tubuhku, membuat cardigan-ku berkibar-kibar, membuat panorama langit bertabur bintang terlihat semakin mempesona. <-- okeh, aku nulis sampah
Pokoknya, saat melewati gapura kompleks Astri, pluk, sesuatu jatuh ke lengan kiriku.
Aku melihat sekilas benda yang terjatuh di atas cardigan pink itu.
Cicak.
Ya, cicak. C-I-C-A-K~
APAAA???!!!!

Aku langsung menggelepar-gelepar nggak karuan di atas mobek kayak kena step (sumpah!).
Geleparan pertama si cicak masih nangkring di lenganku.
Ya Tuhan!!!! Air mataku hampir mengalir melihat si cicak yang menatapku penuh kekejaman.
Geleparan kedua lebih hot, aku hampir saja menabrak pembatas parit, dan memungkinkan terjungkal ke dalam parit Sei Raya yang hitam kelam tersebut.
Dan si cicak terlepas!

Aku tidak peduli bahkan ketika aku hampir menabrak truk yang akan melintas atau orang-orang di sekitar situ memperhatikanku saat menggelepar gila.
Yang penting si cicak nggak nangkring di lenganku lagi, itu saja!!!

Tetapi tiba-tiba aku dihadang oleh kengerian yang lebih mencekam.
Bagaimana jika ternyata... si cicak malah merayap ke baju atau celanaku?
Atau ternyata cicak laknat itu ngompreng di helm-ku?

Kemudian aku merasakan sensasi aneh, di bahuku.
Kayak ada yang merayap...

Aku memberanikan melirik kaca spion.

Ternyata... tali helm.

Tapi belum selesai begitu saja.
Aku pun memacu mobek dengan kecepatan tinggi, aku ingin bergegas sampai di rumah.
Dan sesampainya di rumah, aku berjalan ragu ke kamar... melirik kaca... akankah ada cicak yang mampir di pakaianku...

Nggak ada!!! Nggak ada, lho, NGGAK ADA!!!!!!

Rasanya seperti saat Indonesia merdeka dulu. Bebas, lepas...!

Aku pun dengan segera melepas cardigan durjana tersebut dan memasukkannya ke mesin cuci.


Pesan moral:

1. Jangan pernah mengabaikan pesan orang tua. Siapa tahu ada azab yang menantimu karena kedurhakaan itu.

2. Waspada cicak.

Saturday, May 03, 2008

Bleach ga Suki da yo!!*

Sekarang ini aku memang lagi suka-sukanya baca Bleach.
Mm, dari dulu sih, cuma baru sekarang aja dapet kesempatan buat nulis tentang komik keren satu ini.

Nah, seperti biasa, aku nggak jago bikin sinopsis, tapi aku akan memaksa buat bikin.

Bleach bercerita tentang seorang cowok SMA bernama Ichigo Kurosaki (penulisan nama dengan format Western, bukan Japanese), yang tiba-tiba berubah kehidupannya sejak bertemu dengan seorang shinigami cewek bernama Rukia Kuchiki. Semula Rukia berniat mentransfer separuh kekuatan shinigami-nya pada Ichigo yang ingin menyelamatkan keluarganya yang diserang Hollow, roh manusia yang sudah meninggal yang berubah menjadi jahat, namun seluruh kekuatan Rukia malah terserap oleh Ichigo. Mulai saat itu, Ichigo menjalani hari-harinya tidak hanya menjadi seorang cowok SMA biasa melainkan sebagai seorang shinigami. Rukia yang kehilangan kekuatan shinigaminya pun bersekolah di sekolah yang sama dengan Ichigo untuk membantunya menangani para hollow yang sering muncul.
Di sekolah juga terdapat teman-teman Ichigo yang tanpa sadar terpengaruh oleh kekuatan spiritual Ichigo yang sangat besar, yaitu Orihime Inoue, Yasutora Sado (Chad) dan seorang Quincy pembenci shinigami bernama Uryu Ishida.

Tokoh kesukaanku... mm, Ichigo, dan seorang arrankal (atau arrancar atau apapun itu) keren bernama Ulqiorra (Urukiora, dalam pengejaan bahasa Jepangnya).
Aku suka banget manga ini, karena... yah, keren!
Masing-masing tokoh punya karakter yang unik, terutama para cowoknya, terutama Uru!
Artwork Tite Kubo (mangaka-nya) emang keren banget, seolah-olah Uru telah ditakdirkan untuk menjadi cowok keren idolaku. (Maafkan aku Toma, tapi asal kau tahu, aku masih menyukaimu.)

Shonen manga ini kurekomendasikan bagi siapa saja yang menyukai cerita yang unik atau tipe cowok kasar-tapi-baik-hati macam Ichigo. Humor yang terdapat di dalamnya pun selera tinggi, bukan humor garing ala seseorang di kelasku bernama *piiip* (sensor).

Oh iya, Asutarin mungkin tertarik pada Bleach juga karena melihat antusiasme-ku yang begitu besar pada Bleach (aku baca sambil teriak-teriak kayak orang gila), dan dia membuat Arta juga membaca Bleach. (Well, aku mungkin terdengar sok berjasa.)
Dan karena aku-Astri-Arta membaca Bleach dan membicarakan hal itu sepanjang waktu, sehingga mungkin Ovie pun merasa muak menjadi kambing congek dan akhirnya membaca Bleach juga.

Senangnya penggemar Bleach bertambah!!

Kuharap siapapun yang membaca posting ini tiba-tiba, entah ditarik kekuatan apa, jadi pengen baca Bleach.
Semoga.



*Suka Bleach!!

Friday, May 02, 2008

Dapatkan Banyak Dari Upacara

Tadi pagi aku menghadiri upacara bendera dalam rangka Hari Pendidikan Nasional di kantor gubernur.
Kami berbaris di samping barisan Satpol PP dan guru-guru dari berbagai sekolah.
Nah, diantara puluhan orang dewasa tersebut, ada beberapa orang yang aku dan Ovie anggap unik, dan yah, membuat tertawa. Mari buat daftar.

Berbagai Tipe Orang Dewasa Unik yang Kutemui

1. Bapak tusuk gigi.

Aku yakin Bapak Tusuk Gigi suka baca buku-buku detektif macam Sherlock Holmes atau novel-novel misteri karangan Agatha Christie, karena, ya ampun, gayanya ngulum-ngulum tusuk gigi dan bukannya mengorek-ngorek gigi dengan menjijikkan jelas-jelas menunjukkan bahwa Bapak Tusuk Gigi itu sok detektif.

2. Ibu kipas, dengan aksen mulut dimajukan.

Ibu Kipas berbaris tepat segaris dengan Elitha, dan, aduh, kayaknya nggak ada yang lebih menarik baginya dibanding mengipas dengan Aksen Mulut Dimajukan.
Oh, ya, sepertinya Bapak Tusuk Gigi dan Ibu Kipas berasal dari sekolah yang sama, karena Ovie sempat ngeliat mereka berdua ngobrol dengan akrab.
Atau mereka sepasang kekasih? (mm, kata 'kekasih' mungkin terdengar agak menjijikkan.)

3. Ibu alis-digambar yang galak.

Sinar matahari memang menyengat tadi pagi, sehingga anak-anak sekolahku (disini maksudnya anak kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 saja) nggak ada yang mau baris di bagian depan, dimana nggak ada pohon untuk tempat berteduh. Karena banyak yang ngumpul-ngumpul di belakang, kita pun asyik sendiri, dan mulai ngobrol-ngobrol nggak jelas (termasuk nyanyi 'Shall we dance.....' berulang-ulang bersama Febi) yang menimbulkan kasak-kusuk meresahkan. Si Ibu Galak Alis-Digambar pun ngomel-ngomel.
Peduli apa dia dengan kami, lebih baik dia memperhatikan alisnya, yang benar-benar nggak kelihatan alami, dan membuatnya terlihat seperti topeng bali.

4. Ibu buka-sepatu-karena-panas.

Ibu-Buka-Sepatu-Karena-Panas, berbeda dengan ketiga tersangka lain yang merupakan guru, adalah anggota Satpol PP. Mereka adalah dua orang (ya, ibu-buka-sepatu bukan hanya seorang, melainkan DUA orang) yang aktivitasnya (buka sepatu, tentu saja) tertangkap oleh mata jeli Febi.
Nilai moral yang bisa diambil: Kalau panas, buka saja sepatumu, niscaya akan terasa lebih sejuk.


Oh, ya, selain Satpol PP dan guru-guru yang berbaris di samping kiri kami, ada anak-anak SMA Santun Untan yang berbaris di samping kanan kami.
Nah, dari anak-anak Santun inilah aku dan Ovie dapat membuat daftar (lagi).

Fakta Orang Kampung (variabel: anak-anak SMA Santun Untan yang memang dikenal sebagai sekolah kampung)
1. Orang Kampung Suka Duduk

Ya, saat semua orang berdiri dalam barisan saat upacara, tiga perempat barisan anak kampung akan hancur, yang kemudian malah duduk-duduk di bawah pohon di belakang barisan atau duduk di tempat, atau bahkan berjongkok di tempat seperti akan buang hajat.

2. Cowok Kampung Suka Bergaya Sok Emo

Dengan poni panjang dan di lempar ke sisi sebelah wajah mereka.
Ya ampun, mungkin mereka pikir itu akan membuat mereka terlihat keren, tapi sayang sekali, itu hanya malah semakin menunjukkan kekampungan mereka. Kecuali mereka Toma, maka ceritanya akan berbeda.

3. Orang Kampung Suka Menaikkan Kerah Baju Mereka

"Kayak drakula,"komentar Ovie.
Tidak, drakula masih lebih bagus daripada mereka.
Dengan kerah dinaikkan seperti itu mereka terlihat seperti, mm, ya, orang kampung.

4. Cewek Kampung Suka Berbedak Tebal

Kenapa mereka suka berbedak tebal? Apa mereka nggak sadar, kalau menutupi wajah dengan bedak setebal salju itu norak?
Nggak, jawab Ovie.
Mereka nggak akan sadar, karena satu sekolah isinya begitu semua.

5. Orang Kampung Berbicara dengan Bahasa Kampung

Mm, bukannya orang kampung punya bahasa khusus untuk mereka saling berkomunikasi, tapi, mereka punya logat khusus yang aneh.
Yang saat aku dan Ovie mendengar seorang cowok berbicara dengan logat tersebut, kami langsung yakin seratus persen cowok itu orang kampung.

Okeh, kali ini nggak akan ada daftar lagi.
Nah, setelah upacara, kami memutuskan untuk minum entah apa, untuk melegakan dahaga gara-gara sekolah pelit yang nggak nyediain minuman buat anak muridnya yang hampir dehidrasi (karena kebanyakan ngerumpi, tentu saja).

Setelah perjalanan panjang (aku dan Ovie terpisah dari temen-temen yang lain) akhirnya kami pun berkumpul di warung es krim (atau apapun namanya) St. Petrus.
Tapi saat hendak memesan, dengan semena-mena salah satu abang penjualnya bilang kalo es krim-nya belum ada, jam sepuluh baru jadi. Sedangkan saat itu baru jam setengah sepuluh.
Kita pun berasa dalam dilema antara ingin segera minum atau pengen makan es krim.
Akhirnya kita pun menyerah dan akhirnya mesen minuman lain selain es krim.

Sambil minum, kita pun cerita-cerita nggak jelas, seperti yang biasa dilakukan cewek-cewek kalo lagi ngumpul.
Aku pun menceritakan secuil cerita dari perjalananku ke pantai.

Begini ceritanya. ( Ket: A=Aku, D=Dedek, O=Om Mul. Percakapan berikut ini ditulis dengan bahasa Indonesia, bukannya Melayu seperti kejadian sebenarnya)

A: (ngeliat bus dengan tulisan 'Bento' di belakangnya) Mm, ternyata orang Kalbar mantap juga bisa bahasa Jepang , yah.
D: Hah, memang tau dari mana?
A: Tuh, ada tulisan bento di bis ituh. Bento kan bahasa Jepang.
O: Bento artinya 'Benteng Soeharto'.
A: Oh.. Pantes. Nggak mungkin lah bento-nya bahasa jepang.
D: Masa sih? Berarti Hoka Hoka Bento tuh, Hoka Hoka Benteng Soeharto?

Selesai menghabiskan satu gelas, tiba-tiba kita menyadari kenyataan yang menyakitkan.
Es krim-nya udah ada.
Abang itu pembohong, katanya jam sepuluh, tapi baru jam sepuluh kurang lima belas es krimnya udah ada. Grrrk.
Kita pun kembali dalam dilema: apakah harus membeli es krim lagi? Atau tidak?
Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya kita memutuskan untuk membeli es krim, tapi hanya 2 porsi, dengan sendok enam (miskin).
Aku dan Astri sukanya vanilla atau nggak stroberi, jadi pilihannya antara dua itu.

Waktu Ovie dan Febi mesen, abangnya bilang cuma ada rasa cokelat.
Aku dan Asutarin pun langsung berontak, dan teriak-teriak kesal, "Nggak suka cokelat!" yang dibalas dengan sangar (okeh, ini berlebihan) oleh Echa dan Arta, "Cokelat aja! Aku suka cokelat!"
Ovie pun berkata pada abang itu, "Gimana, pada nggak suka cokelat, nie."
"Iya," jawab abang itu. Hanya sebuah 'iya'!
Terima kasih sudah menjwab dengan sangat baik.

Wednesday, April 30, 2008

Story About Stories

Tragedi si cewek menyebalkan (yang dalam konteks ini kita singkat dengan sebutan Si Cemen) terjadi. Rahasia kelas tentang betapa kami membencinya akhirnya terkuak melalui mulut seorang gadis manis anggota BipBip bernama Arlia.
Dia menangis... menangis! Aku agak miris melihatnya, karena, yah, aku emang nggak tega kalau seorang cewek sampe nangis, Si Cemen sekalipun (sok gentle, padahal cewek). Tapi aku juga nggak akan nepuk-nepuk bahunya menenangkan, tetapi cuma memandang dari jauh saja. Karena, yah, bagaimanapun dia itu Si Cemen. Aku pernah bilang bahwa aku membencinya, dan itu berlangsung sampai detik ini.
Tetapi hari ini dia kembali seperti biasa, seakan kemarin tak terjadi apapun, tidak ada seorangpun yang sesenggukan sambil menelungkupkan wajah di meja, atau muntah-muntah. Hanya saja aku tahu dia agak menjaga jarak kali ini... atau tidak? Entahlah. Bersyukur karena gara-gara rolling bangku, minggu ini aku ditempatkan jauh dari bangkunya.

Oke, kita beranjak dari topik tentang Si Cemen.
Aku ingin menulis tentang sebuah potongan kisah dari masa lampau (okeh, sebenarnya cuma setahun yang lalu, waktu kelas sepuluh). Ini cuma kejadian singkat yang super nggak penting, yang kualami bersama Endah.
Haah, kalau aku menulis ini, aku jadi kangen sama Endah dan saat-saat kami menghabiskan waktu bersama, juga hal-hal bodoh yang kami lakukan. Suatu hal yang hampir tidak mungkin terjadi akhir-akhir ini, karena aku dan Endah sekarang nggak seakrab dulu. Belum lagi les-les super pencapek yang nggak bisa ditinggal untuk sekedar jalan-jalan. (Well, ini boong banget mengingat sekarang aku lagi bolos les fisika, dan besok libur)

Saat itu lagi musim-musimnya es teler pinggir jalan, jadi aku dan Endah, yang sama-sama berotak konsumtif, menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan nongkrong di warung es teler dekat komplek Mujahidin. Namanya Es Teler Ciuman.
Mm, mungkin terdengar agak vulgar yah, sebab itu nama emang bukan tukang jualnya yang ngasih, tetapi aku yang seenak perut menyebutnya begitu. Ada sejarah sendiri bagaimana warung es teler pinggiran tersebut bisa disebut begitu, tetapi aku nggak akan menceritakannya di sini, karena cuma bakal bikin garing aja.
Lalu sambil meminum es teler pesanan, kami bercerita kesana kemari, mulai dari gosip sampe hal-hal bodoh yang pernah kami lakukan. Tertawa sekeras-kerasnya, sampai ngebikin orang-orang menoleh sebel. Akhirnya tanpa terasa es teler di mangkuk kami habis, dan sudah saatnya untuk pulang.
Aku pun mengantar Endah dengan selamat ke rumahnya (dengan manuver-manuver oke bersama si mobek), dan aku juga kembali ke my home sweet home.
Sesampainya di rumah, aku teringat sesuatu yang bodoh. Sangat bodoh.
Aku langsung menyambar hape dan memencet nomor Endah di telepon rumah (pelit pulsa).
Tut... tut... Sedang tersambung.
Klek, telepon diangkat.
Percakapan berikut ditulis dengan bahasa Indonesia, bukannya Melayu seperti kejadian sebenarnya.
"Halo, Endah?" ucapku cepat.
"Ya, ada apaan, Des?" tanyanya.
"Kamu lagi ada urusan nggak sekarang? Bisa minta tolong, nggak?"
"Nggak, sih. Emang ada apa, nih?"
"Anuu, kamu bisa balik ke Es Teler Ciuman lagi nggak, sekarang?" tanyaku agak tergeragap.
"Ha? Apaan, sih?"
Susah sekali menahan tawa untuk nggak pecah berderai. "Mmm, tadi... mmm, es teler..."
Endah diam menunggu lanjutan kata-kataku.
Dengan susah payah dan terbata, aku pun melanjutkan, "Anuu, selesai minum es teler, kita... kita belum bayar."

Saturday, April 26, 2008

Celebrating Something

Hari ini hari yang ditunggu-tunggu, seperti yang kutulis di posting sebelumnya, Perayaan Kartini di sekolah! Uhuhuhu, dan lomba Kartini-Kartono (yang kuhina-hina kemaren) itu tentu saja.
Aku berangkat ke sekolah dengan kebaya pink yang Mama belikan beberapa hari yang lalu dan celana kain hitam milik Mama. Tak lupa berbekal rok yang dibuat menyerupai bawahan kebaya dalam tas. Oh, ya, omong-omong aku ini sering sekali memakai barang-barang Mama-handed alias bekas Mama. Ya, misalnya celana itu atau bawahan kebaya itu. Belum lagi tas Mama yang kupakai buat pergi-pergi. Emang jelek kalau kita bilang 'bekas-Mama' (lagipula aku cuma minjem) tapi mungkin agak terdengar lebih keren kalau seperti yang kubilang yaitu 'Mama-handed'. Yah, English-English gimanaa gitu.

Aku menjalani hari ini tanpa anggota bipbip kecuali Arlia. Echa pergi ke Medan, Arta dan Asutarin Sistaponik, Febi dan Ovie ngurusin acara sebagai Panitia OSIS.
Sebenarnya ada tugas juga dari Snapycation buat ngeliput dan ngewawancarain pemenang di lomba surat kartini dan lomba masak mie goreng, tapi, ya ampun, males banget atuh. Aku emang suka nulis, makanya di Snapy tugasku jadi writer, dan jelas-jelas bukan wartawan karena aku sumpah nggak berbakat di bidang yang mengandalkan hubungan sosial macam wartawan ini. Aku nggak bisa mewawancarai satu orangpun kalau mau tahu.

Apa yang ingin kurangkum dari perayaan ini dan kutulis di sini?
Hmm, nggak tau. Mungkin nggak ada.
Kalaupun ada aku akan menuangkannya dalam artikel buat Snapy yang harus kutulis nanti, minus wawancara.

Friday, April 25, 2008

Liburan Berakhir... Mari Ber-Kartini Ria!

Liburan usai begitu saja, cepat sekali, seperti Shinkansen yang membawaku ke Kyoto waktu itu. (Boong banget, lagian emangnya Kyoto bisa ditempuh dengan Shinkansen?)
Yah, meski hari-hari liburku nggak bermakna (cuma baca ampe mual, nonton, main minesweeper, dan irc: main games di salah satu channel dengan nick "kuroyuri"), tapi dibandingkan hari-hari melelahkan penuh derita di sekolah? Tentu aku pilih liburan nggak bermakna.
Dan coba tebak apa yang menyambutku begitu sampai di gubuk derita itu?
Pembagian nilai mid kimia dan fisika!
Ha, cukuplah untuk membuatku muntah darah. Nilainya butut banget, meski ga remidi, tapi bener-bener deh, kayak vespa tetanggaku yang bobrok sangat tapi setengah mampus di modif.
Lalu, perayaan kartini!
Hohoho, itu berarti kebaya dan sanggul dimana-mana.
Padahal kalau dipikir-pikir, ya ampun, kartini ya kartini. Yang musti kita kagumi adalah cara pikir dan perjuangannya terhadap kaum perempuan, bukan sanggul dan kebayanya, aduh.
Lagian ini Pontianak lho, yang mayoritasnya penduduk Melayu (mm, ga juga kayaknya), kenapa kita harus repot berpura-pura menjadi gadis Jawa?
Dan yang paling konyol adalah lomba Kartini Kartono.
Lomba Kartini, ya, okelah, karena yang dinilai bukan cuma kebaya dan sanggulnya aja. Ini melatih buat siapapun pesertanya yang mungkin suatu saat ikut Pemilihan Putri Indonesia (siapa tahu).
Tapi KARTONO??
Ada apa dengan Kartono, ha, saudara-saudara?
Siapa dia? Cuma nama yang berima sama dengan Kartini dengan huruf 'i' diganti dengan 'o'.
Kenapa harus berlomba menjadi karakter fiktif dengan nama kampungan itu?
Kenapa nggak Lomba Kartini-Einstein, Kartini-Soekarno, Kartini-Toma, atau sesuatu seperti itu, dibandingkan Kartini-Kartono??
Mungkin Kartini-Einstein, Kartini-Soekarno, terutama Kartini-Toma, memang nggak matching dan tentu saja di luar konteks, tapi kalau boleh jujur Kartini-Kartono benar-benar konyol. Bagiku.
Memang susah untuk keluar dari sistem yang sudah mendarah daging.
Lagipula, aku nggak berniat untuk memberontak. Tulisan ini kubuat cuma pengisi waktu senggang, dan bukannya ide awal dari demo pemboikotan "Kartono" atau hal-hal semacam itu.
Dan juga... jujur, aku cukup menikmati Lomba Kartini-Kartono yang ada disekolah.

Terutama jika "dia" yang jadi Kartininya.

Tuesday, April 22, 2008

Kesalahan Fatal

Waktu kubilang aku nggak bakalan bosan dirumah gara-gara adanya 9 novel jarahan dari rumah Raisa, maka sebenarnya saat itu aku salah besar.
Aku nggak memperhitungkan sebuah kemungkinan.
Kalau aku bakal... mual.
Sembilan novel, ditumpuk setinggi betis, melihatnya saja sudah mual. Kemarin aku hampir saja muntah karena menyelesaikan sebuah novel Agatha Christie berjudul Endless Night.
Sebenarnya aku sudah muak dari hari-hari sebelumnya, dimana aku membaca novel-novel metropop macam Cinta Paket Hemat dan Tarothalia. Pas CiPaHe sih belum akut, tapi pas Tarothalia, ya ampun, rasanya kepalaku diisi batu.

Mm, kurasa masalah sebenarnya nggak cuma karena buku bacaan yang segambreng, melainkan aktivitas menontonku yang kelewat batas.
Gimana yah, tiga empat jam menonton mungkin akan membuat kita pusing, coba bayangkan kalau itu terjadi setiap hari.
Ternyata liburan nggak boleh diisi oleh baca atau nonton melulu aja. Mesti melakukan hal-hal lain yang membutuhkan pergerakan fisik yang lebih dari sekedar membalik kertas atau menekan tombol forward.

Karena itu!
Aku seharusnya jalan-jalan entah kemana, Tokyo atau Paris atau Venesia (ngayal banget).
Ya, meski ke Tokyo atau Paris nggak masuk akal, memang setidaknya aku harus ke Venesia, eh bukan, aku harus pergi ke suatu tempat yang menyegarkan otak, mengganti jenis oksigen yang kuhirup.

Berenang seperti yang direncanakan Arta terdengar menyenangkan, aku pun memang berniat ikut, hanya saja hari yang Arta dan Febi tentukan untuk pergi bersamaan dengan berenangnya teman-teman sekelasku. Cowok. Oke, aku menyerah.

Shopping ke secret heaven sama Asutarin juga kedengaran seru, andai saja aku punya uang buat belanja juga.

Ke Animenakama buat minjem Bleach yang tercinta? Itu usul yang bagus, sangat bagus karena kalau komik nggak akan terlalu membuat mual. Tapi resiko komik dibakar oleh Mama sangat besar persentasenya jika aku meminjam sepuluh komik sekaligus, sehingga aku hanya bisa meminjam beberapa buah komik saja. Dan itu nggak bikin seneng.

Yah, sepertinya membaca dan menonton adalah nafas hidupku.
Peduli amat dengan mual, muntah aja sekalian.
Liburanku hanya untuk dua hal itu.

Monday, April 21, 2008

Dorama All The Way

Sebenarnya ini juga bukan dorama baru keluar atau baru dibuat musim ini. Hanya saja aku baru menontonnya dan, yah, itulah isi otakku sekarang.
Judulnya "Yukan Club". Hahaha, aku bahkan nggak tau apa artinya 'yukan'. Tapi menurut daya observasiku yang cukup tinggi ini, yukan club artinya klub orang-orang kurang kerjaan.
Mm, mungkin terdengar kurang bermutu. Nanti deh aku cari terjemahannya.
Inti dorama ini menceritakan tentang 6 orang murid St. President Gakuen, sekolah kaum borjuis. Dan 6 orang yang nyeleneh ini sering sekali--sesuai nama klubnya--merasa bosan.
Hanya itu yang bisa kuceritakan, karena aku tahu aku kurang pandai membuat ringkasan sesuatu yang kusukai, aku takut membuatnya terlihat buruk.
Bagi temen-temenku yang baru-baru ini kecanduan hana kimi dan tiba-tiba jadi suka dorama akan kupromosikan dorama ini pada kalieun. Yang kutakutkan hanya satu: mereka akan membandin-bandingkan dorama ini dengan hana kimi.
Ya ampun, hana kimi dan yukan club adalah dua dorama dengan genre yang sangat berbeda (bagiku). Hanakimi itu komedi romantis, sedangkan yukan club, mm.. apa ya, aku nggak bisa menentukannya. Tapi intinya ini cerita tentang persahabatan. Yah, meski mereka juga jatuh cinta, sih.
Satu lagi perbedaan mendasar dan sangat mencolok.
Mungkin di hanakimi kita akan memanjakan mata dengan melihat cowok-cowok cakep terutama Nakatsu alias Toma alias MyLove, tapi jangan harap temukan itu di Yukan Club.
Bukannya pemain Yukan Club jelek-jelek banget sih, hanya saja, aduh, dibandingin sama Nakatsu alias Toma alias MyLove, mereka hanya terlihat seperti bebek. Ah, kuharap hanya mataku saja yang begitu, karena aku nggak mau mendengar hinaan tentang Yukan Club. Tidak, tidak, aku tak rela.
Lagipula karena karakter yang mereka mainkan cukup keren, jadi mungkin kita tidak akan mempermasalahkan tampang mereka. Mungkin.

Ah, ya. Omong-omong karena aku sudah menyelesaikan menonton Yukan Club, berarti acara liburanku akan berkurang.
Tapi, itu kalau aku nggak datang ke rumah Raisa kemaren. Sayangnya aku datang.
Dan menjarah 9 novel Raisa sebagai oleh-oleh untuk kubawa pulang.
Aku nggak akan sempat menganggur, percayalah.


Jadi... apa yang akan kulakukan sekarang? Baca buku? Kepalaku pusing banget. Sebelum nonton Yukan Club aku nyelesein baca Endless Night-nya Agatha Christie.
Ah, aku tahu apa.
Ini akan berhubungan dengan Yukan Club.

Ayo menjelajah... dunia maya.

Saturday, April 19, 2008

Holiday, Hip-Hip Hura!

Deng deng deng deng.....!!!!!!
Libur-libur-libur-libur!!

Yup, libur adalah kata paling dicari dalam kamus remaja SMA, terutama SMA Negeri 1, terutama anak kelas XI IPA 1, terutama murid cewek, terutama aku.
Dan jangan sekali-kali berharap liburan ini bakalan jadi liburan garing. Liburan ini nggak bakalan garing! Karena kau tahu apa, aku udah nyewa Yukan Club! Thanks buat Hilda atas jerih payahnya...
Lalu, aku udah bikin proyek besar mengenai novel terbaruku yang berjudul Time Capsule.
Ada juga novel Metropop berjudul Tarothalia karangan Tria Barmawi yang belum kubaca selesai.
Aku juga nggak perlu rebutan PS sama Dedek, dia kan nggak libur.
Trus, Arta ngajakin berenang.
Asutarin ngajakin shopping di 'secret heaven'.
Dan lainnya... dan lainnya... lainnya....
Kalau toh itu semua gagal, aku tinggal ngabur ke Animenakama, minjem komik banyak-banyak...

Ha! Dengan membayangkannya saja aku sudah begitu bahagia. Tinggal beli popcorn untuk melengkapi itu semua (ga nyambung).

Selain itu, kalau libur aku nggak perlu bertemu muka dengannya. Ya, dia. Cewek yang di-nggak-sukai oleh semua orang itu. Hidup jadi lebih bebas, lepas... Oksigen yang kuhirup bakal lebih bersih dari biasanya.

Sayangnya hari ini kepalaku pusing, berat banget rasanya. Otot di sambungan antara leher dan bahuku juga rasanya sakit banget.
Rencana libur itu untuk besok-besok saja.
Yang paling kubutuhkan sekarang hanya satu: tidur.
Istirahat yang cukup.
Lalu aku akan bersemangat menghadapi hari-hari liburku yang menyenangkan esok harinya.

Wednesday, April 16, 2008

Aku Masih Tetap Seperti yang Dulu

Masih ingat dengan program BS milikku? Benkyo Shimasho... belajar rutin sebelum ulangan untuk mendapat nilai maksimal. Lihat apa yang terjadi pada diriku. Em, seperti biasa, bukannya BS, malahan tetap dengan tradisi lama; sistem kebut semalam.
Semalam di sini dalam artian sebenarnya, benar-benar malam. Sekarang jam 10, dan aku bahkan belum mulai belajar. Bagus... bagus sekali. Aku malah duduk di depan kompi tercinta, menulis blog dengan alasan rutinitas.
Aku nggak takut mengantuk atau apa, karena tadi aku minum satu mug vanilla latte, trik yang lebih bagus untuk membuat mata tetap melek, dibanding mengganjal kelopak mata dengan korek api.
Haaah... padahal demi ulangan sejarah menyebalkan ini aku rela menahan hasrat ingin membaca lanjutan Bleach... Harusnya aku tahu bahwa Bleach dan ulangan nggak memiliki korelasi khusus, mengingat ada ataupun tidak benda itu, aku tetap males belajar.
Omong-omong, tadi siang aku sempat baca novelnya Dahlan Iskandar: Ganti Hati. Bagus, ditulis dalam bentuk jurnal (atau apapun itu) yang meski nggak begitu runut, tetapi sangat menarik. Belum selesai dibaca sih, abis musti rebutan dulu sama Mama. Mama baca lelet banget, udah tiga hari masih belasan halaman. Aku sudah menghabiskan kira-kira setengah buku dalam interval waktu baca dari pulang sekolah sampai pergi les fisika Bu Astin.
Omong-omong lagi, kemaren aku juga nyelesein baca satu novel metropop berjudul C`est la Vie karangan Fanny Hartanti. Lumayan bagus, hanya saja nggak begitu membekas di hati. Entah apa sebabnya, mungkin karena gaya penulisannya yang nggak sesuai seleraku, atau yang lain. Tapi aku memang suka ceritanya (di luar gaya penulisan tadi) ringan tapi cukup berbobot. Aku jadi terinspirasi untuk menulis novelku sendiri.
Mm, sebenarnya udah lama sih, aku menulis novel, dan cukup banyak. Hanya saja novel yang kutulis itu rata-rata nggak layak baca, karena, yah, tau sendirilah, aku kan nggak begitu berbakat. Tapi aku cukup yakin dengan novelku yang terakhir.
Ceritanya tentang--
Mm, nggak jadi cerita deh. Sampai saat ini, yang tau tentang cerita ini cuma Echa, itupun nggak detail. Biar aku jadiin rahasia dulu deh, jadi kalau misalnya hasilnya bagus, kan bisa bikin surprise.
Oke, sekian dulu deh, musti belajar biar nggak remidi lagi!
Tak lupa ditemani Pocky strawberry yang baru kubeli tadi (pamer).

Sunday, April 13, 2008

Crunchy Crackers

Hmm, kedengarannya enak yah, renyah, kriuk-kriuk dalem mulut. Tapi ini enggak, sungguh. Biar aku ceritakan. (Peringatan: Cerita ini bakal garing, sangat garing malah, bagi yang sedang sibuk diharapkan tidak membacanya karena akan benar-benar menyesali lima menit yang bakal terbuang karena membaca tulisan ini).

Hari Sabtu kemaren Asutarin bilang kalo hari ini ada acara ultah-nya Laila (temen akrab Asutarin), dan Laila minta dia untuk ngundang temen-temen si Arin yang ia kenal buat datang juga. Lalu tersebutlah namaku, Arta dan Arlia. Mm, pertamanya aku berpikir, 'Ya ampun, aku kan nggak akrab-akrab banget sama Laila. Gimana kalo aku datang, tapi malah jadi kayak tamu ga diundang?'. Tapi Arin meyakinkanku untuk datang, dan kupikir, yah, setidaknya kan ada dia. Lalu dengan yakin aku memutuskan untuk datang.
Karena Arin dari pagi ada di rumah Ovi buat nonton hanakimi (sebenarnya aku juga diajak, sih, tapi mengingat betapa kamarku begitu berantakan dan betapa mama bakal menyuruhku rodi untuk membersihkannya, dengan berat hati aku menolak tawaran itu), jadi kita janjian buat ketemu di rumah Ovi. Sesampainya di rumah Ovi, aku langsung ngajak Arin cabut ke warnet, nyari tugas TIK. Tapi Asutarin bilang dia mo pulang ke rumah dulu, mo mandi sama ganti baju. Ya udah, aku nunggu deh di rumah Ovi, bersyukur, akhirnya bisa juga nonton hanakimi (dan menonton adegan Nakatsu dengan monolog sensasionalnya: '.... kanke ne!').
Waktu berlalu, aku menikmati nonton hanakimi dengan menatap Nakatsu menggebu-gebu, tetapi Asutarin tak kunjung datang. Aku bahkan sempat menyiksa Ovi dan Arta karena Nakatsu alias Toma alias MyLove begitu lucu dan terlihat sangat tampan, tetapi Arin tetap belum datang. Aku nggak begitu kalut, karena seperti yang kukatakan sebelumnya, aku menikmati --sangat menikmati-- menonton hanakimi.
Asutarin datang jam setengah empat, dan acara dimulai setelah ashar. Harusnya acara sudah mulai. Aku dan Asutarin pun dihadapkan pada dilema yang sangat memusingkan: harus memilih antara ke warnet, atau langsung ke rumah Laila. Ah, tambah satu lagi: belum beli kado.
Arin bilang, mendingan langsung ke rumah Laila aja, masalahnya, kalo kita ke warnet dulu, datangnya bakalan telat, mana nggak bawa kado lagi. Jadi berangkatlah kami ke TKP.
Sampai di sana, DOOONG, yang datang baru dikit. Kami berpandangan, sebisa mungkin menahan tawa. "Tau gini, kita ke warnet dulu aja," ucap Asutarin. Aku mengangguk, grogi. Seperti yang kubilang, aku merasa garing. Lalu temen-temen lama Laila berdatangan. Arin yang cukup akrab dengan mereka langsung ikut menyambut. Lha aku? Kenal juga enggak. Cuma sekedar tau nama mereka. Dan, ya ampun, mungkin mereka bahkan nggak tau namaku.
Arin yang simpatik lalu menemaniku yang berada dalam jurang kegaringan; ikutan garing. Kami kemudian membicarakan kami yang datang dengan tangan hampa.
"Nggak kok," bela Asutarin, "liat aja yang lain, nggak ada juga yang bawa kado."
"Hehe, iya juga."
Kami pun membicarakan hal-hal lain, misalnya betapa penahan jendela rumah Laila menyodok rusukku. Ati datang, dan aku menguping pembicarannya dengan Asutarin.
"Di kelas ada sekitar 5 sampe 7 cewek yang suka sama dia,"jelas Ati.
Kuis: Siapakah yang mereka bicarakan?
Ting-tong! Jawabannya: Adik pertama Asutarin, Tito.
Beberapa saat kembali garing. Lalu Arin menyodok rusukku, sambil menahan tawa.
"Bppph... Coba liat tas Ambar (temen lama Laila yang tadi datang)."
Aku menoleh dan melihat... ada sesuatu yang terbungkus rapi dengan kertas manis bergambar warna-warni. Kado.
"Jangan-jangan, itulah fungsi mereka bawa tas," ujarku sambil memandang teman-teman Laila dan tasnya. "Buat bawa kado."