Monday, April 15, 2013

Sedikit Unek-unek

Selama tiga tahun tinggal jauh dari keluarga di—pinggiran—ibukota membuat saya terbiasa pergi kemana-mana dengan kombinasi jalan kaki ditambah transportasi massal. Yah, kecuali kalau kemalaman atau tertinggal jadwal, maka terpaksa naik taksi. Satu-satunya kesempatan untuk menggunakan kendaraan pribadi hanya ketika nebeng teman—atau ditebengin teman, dengan modal kendaraan pinjaman. Itu sebabnya sepatu saya cepat sekali rusak karena terlalu sering dipakai mengejar bis, kereta, atau kelas pagi yang dosennya on-time.

Sekarang saya sudah kembali ke kampung halaman, dan belakangan, sepatu-sepatu saya jadi masih awet karena sudah jarang dibawa lari-larian. Kalau soal sepatu sih bagus, tapi akibatnya otot kaki saya jadi lemah: keliling supermarket untuk belanja bulanan saja langsung pegal-pegal. Solusinya sih, rutin olahraga lari, tetapi saya memang manusia sebatas niat karena akhirnya cuma berhasil dilakukan tiga-empat kali.

Gonzales lebih senang di rumah dibanding jalan kaki,
naik kendaraan umum, atau kendaraan pribadi.

Jadinya saya kangen deh jalan kaki sama naik kendaraan umum. Tetapi jangankan perjalanan jauh, ke warung depan gang saja boro-boro mau jalan kaki. Mungkin ada hubungannya dengan udara panas terik membakar yang nggak manusiawi, sehingga tanpa sadar sebisa mungkin meminimalisasi kontak langsung di bawah matahari. Sok iya banget, ya? Memang. Dan bukan cuma saya loh, satu kota ini juga mungkin berpikiran yang sama.


Makanya, jangan frustasi misalnya kalian mampir ke kota saya. Mau ke mana-mana susah karena kendaraan umum hampir nggak ada. Bisnis yang dulu ramai kini tinggal menunggu habis tergerus kenaikan BBM dan kemudahan kredit motor yang uang mukanya cuma lima ratus ribu. Mau jalan kaki? Masuk akal sih, karena toh kota ini nggak gede-gede amat. Tetapi patut menjadi pertimbangan bahwa tingkat kriminalitasi di kota ini juga lumayan tinggi, belum lagi pejalan kaki seolah diperlakukan sebagai kasta terendah pengguna jalan raya. Satu fakta tentang kota ini yang perlu diketahui: penduduknya tinggi gengsi.

Bahkan bersepeda pun bukan pilihan yang aman. Di satu sisi tidak ingin menambah polusi udara sekaligus berolahraga, tetapi pada akhirnya cuma jadi sasaran empuk klakson-klakson memekakkan telinga serta korban disalip manuver berbahaya sepeda motor yang dikendarai remaja-remaja tanggung.

Menurut kamu saya harus bagaimana? Akhirnya sesuai tuntutan pergaulan dan alasan keselamatan, saya tetap menjadi pengguna setia kendaraan pribadi. Hanya saja saya berusaha sebisa mungkin menjadi pengendara yang berbudi pekerti(?). Kalau lagi mengendarai motor, ya nggak meliuk-liuk sesuka hati seakan jalanan lintasan tamiya milik sendiri. Kalau menyetir mobil, nggak sembarangan mengklakson seolah-olah yang paling punya kepentingan. Pokoknya saya akan menjadi warga kota yang baik sampai berhak dapat kalpataru(?).

Kesimpulannya, kalau kamu kapan-kapan mampir ke kota ini, jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya. Karena transportasi umum susah, saya bersedia kok menemani jalan-jalan—dengan catatan saya lagi nggak sibuk ya. Soalnya, saya sendiri jarang mengeksplor kota tercinta dan rasanya pengen juga jadi turis di kota sendiri... dan baru seru kalau ada temen yang nggak ngerti apa-apa biar saya bisa puas-puasin sok tahu! Haha.

No comments:

Post a Comment

What do you think?